[Berdebar] – [7] Jealously

berdebar_part 7_pitsansi

Main Cast: KIM WOO BIN as DANIEL RIGEL

BAE SUZY as SANIA OSCAR

OK TAECYEON as ERIC STEVANUS

IM YOONA as LAURA LARASATI

Sinopsis  |  Part 1  |  Part 2  |  Part 3  |  Part 4  |  Part 5  |  Part 6  |  Part 7  |  Part 8  |  Part 9

Part 10  |  Part 11  |  Part 12 [Proteksi]  |  Part 13 [Proteksi]  |  [End] Part 14 [Proteksi]

 

“Cemburu? Apa itu jenis penyakit baru? Setidaknya, begitulah menurutku.”

-DANIEL RIGEL-

 

Sania sama sekali tidak menikmati permainan kali ini. Ia hanya berharap permainan ini cepat berakhir dan dia akan menjauh dari Eric sesegera mungkin.

Berbeda dengan Sania, Eric nampak sangat bersenang-senang. Teriakannya penuh semangat, diiringi sorakan ramai orang-orang di belakangnya. Pria itu lebih sering menolehkan wajahnya ke ara Sania karena berusaha menghindari cipratan air ketika wahana itu melewati permukaan air. Bisa ia lihat, Sania pun melakukan upaya yang sama untuk membuat dirinya terhindar dari cipratan keras air-air itu. Namun usaha mereka tidak banyak membuahkan hasil. Air yang tersibak ke arah mereka terlalu banyak, sehingga membuat mereka basah kuyub setelah permainan usai.

Sania turun dengan terburu-buru, bahkan sebelum wahana belum benar-benar berhenti. Eric segera menyusulnya ketika wanita itu mulai menepi sambil mengusap bagian tubuhnya yang nampak sangat basah.

Sania mengangkat kepalanya ketika merasakan sesuatu yang menyentuh keningnya. “Apa yang kau lakukan?” Teriak Sania ketika melihat Eric berusaha mengatur poni Sania yang basah dan berantakan. Gerakan wanita itu spontan mundur untuk mengambil jarak dengan Eric.

“Aku hanya membantu merapihkan rambutmu!” Jawab Eric tenang.

Sania memegang kepalanya sendiri. Dengan gerakan asal, ia merapihkan sendiri rambutnya yang terasa sangat lepek karena basah. Ia kemudian berlalu keluar dari wahana itu dengan langkah-langkah yang cepat, berharap Eric tidak mengikutinya lagi.

Untuk beberapa saat, harapan Sania terwujud, pria itu tidak menyusulnya. Baguslah, syukur Sania dalam hati. Ia kembali menepi dan berteduh di bawah pohon rindang, baru kemudian kembali mengeringkan dirinya dengan memeras bagian bawah ujung kaosnya yang benar-benar basah. Rambut panjangnya yang terurai berantakan juga berusaha ia rapihkan dengan jari-jarinya, lalu memerasnya untuk mengurangi air di rambutnya itu.

Tidak lama kemudian Eric datang kembali menghampirinya sambil mengulurkan sebuah kaos yang baru saja dibelinya. Pria itu juga telah mengganti kemejanya yang basah dengan kaos barunya.

“Gantilah pakaianmu! Kau bisa sakit bila tidak segera mengganti pakaianmu!” Eric memberikan kode agar Sania segera menyambut kaos yang diulurkan padanya.

“Tidak usah!” Ucap Sania keras kepala. Ia kemudian melangkah pergi untuk meninggalkan Eric. Namun, baru juga beberapa langkah, Sania berhenti. Beberapa detik kemudian terdengar suara bersin dari wanita itu.

Eric mendekati Sania dengan langkah-langkah cepat. “Kau ini masih saja keras kepala! Cepat ganti pakaianmu, aku akan menjaga tasmu di luar.” Dengan gerakan cepat, Eric merebut tas kecil di genggaman Sania, lalu mendorong pelan tubuh wanita itu hingga masuk ke toilet terdekat.

Sania tidak melawan. Ia lebih fokus pada hidungnya yang terasa gatal, agar jangan sampai bersin kembali. Ia kini telah berada di dalam toilet wanita dengan membawa sebuah kaos pemberian Eric.

—<><>—

Sudah dua jam Daniel menunggu dengan tidak sabar. Sania tidak juga kembali dan ia sudah mulai bosan. Sedari tadi ia hanya bisa berjalan mondar-mandir di tempat.

Daniel meraih ponselnya, lalu segera menghubungi wanita itu.

“Sania, kau ada dimana? Apa saja yang kau lakukan? Apa kau sengaja membuatku menunggu lama?” Daniel melontarkan pertanyaan bertubi-tubi ketika sambungan telepon telah tersmbung.

“Sania sedang berada di toilet!”

Daniel terkejut ketika mendengar suara seorang pria di seberang telepon. “Siapa kau?”

“Ini aku, Eric!”

“Eric?” Daniel makin terkejut. “Mengapa kau bisa bersama Sania? Dan mengapa kau yang mengangkat ponselnya?”

“Bukankah sudah kubilang tadi, Sania sedang ke toilet. Aku membantu membawakan tasnya,” nada suara Eric begitu tenang. Saking tenangnya bisa Daniel bayangkan orang di seberang sana sedang tersenyum lebar. “Aku kebetulan bertemu dengannya dan kami bermain bersama.”

Bermain bersama? Daniel mengulang ucapan Eric dalam hati. Seketika itu juga hatinya mulai terasa panas. Ia seolah tidak rela Eric terus mendekati Sania. Ini semua sudah tidak dapat lagi disebut dengan kebetulan. Terlalu sering Daniel merasa Eric sengaja mendekati Sania. Terlebih saat perbincangan mereka di kafe beberapa waktu lalu. Daniel mulai curiga ada sesuatu yang di sembunyikan Eric tentang Sania. Sahabatnya itu nampak sangat tertarik dengan segala hal yang berkaitan dengan Sania.

“Cepat katakan kalian ada dimana?” Nada suara Daniel makin meninggi. Ia bahkan kini lupa Eric adalah sahabat semasa sekolah dulu.

Hening. Cukup lama tidak ada jawaban dari seberang sana. Hal ini justru semakin menyulut emosi Daniel. Daniel merasa Eric sengaja tidak mau memberitahu keberadaan dirinya yang tengah bersama dengan Sania.

“Eric, aku bertanya padamu dimana kau sekarang?” Daniel mengulang pertanyaannya. Kali ini nada suaranya penuh dengan tekanan karena rahangnya mulai mengeras karena amarah.

“Aku juga tidak tau pasti dimana ini!”

Daniel langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ia merasa percuma mengharapkan Eric memberitahukan lokasinya, pria itu memang sengaja tidak memberitahunya. Ada satu alasan yang diyakini Daniel. Eric sedang mengulur waktu untuk bisa bersama dengan Sania lebih lama.

Daniel tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia segera melangkah memasuki area taman bermain yang lebih dalam untuk mencari Sania di seluruh toilet yang ada di sana. Daniel harus segera melakukannya untuk menjauhakan Sania dari Eric.

—<><>—

Sania keluar dari dalam toilet setelah mengganti pakaiannya yang basah dengan kaos pemberian Eric. Ia berjalan mendekati Eric dengan tidak nyaman. Ia mendadak malu ketika menyadari Eric juga mengenakan kaos yang serupa dengannya. Sama persis, karena ternyata kaos yang ia pakai merupakan kaos couple untuk pasangan.

Eric mengembangkan senyumannya ketika melihat Sania mendekatinya. Berbeda dengan Sania, Eric justru merasa nyaman menjadi pusat perhatian karena mengenakan kaos pasangan dengan Sania.

“Mengapa kau membeli kaos couple seperti ini?” Keluh Sania ketika telah berhenti tepat di depan Eric.

“Kaos itu terlihat sangat cocok untukmu.”

“Tapi tidak seharusnya kaos pasangan!” Sania masih saja mengeluh. Berkali-kali ia memalingkan wajahnya ketika orang-orang di sekitarnya mulai melirik dan berbisik-bisik tentangnya dan juga Eric.

Eric hanya bisa mengamati tingah lucu Sania dengan senyuman kepuasan. Ia justru merasa senang bila semua orang yang melihat mereka mengira dirinya dan Sania adalah benar-benar sepasang kekasih.

“Tadi Daniel meneleponmu!” Daniel mengembalikan tas dan juga ponsel milik Sania.

Sania meraihnya dengan cepat. “Apa kau mengangkatnya?”

Eric mengangguk.

“Apa yang kau katakan padanya?” Tanya Sania mulai panik. Ia baru menyadari sudah terlalu lama ia bermain-main. Hari juga semakin sore. Daniel pasti hampir bosan menunggunya.

“Tentu saja aku mengatakan kau sedang di toilet!” Jawab Eric enteng.

“Aku harus pergi. Daniel pasti sedang mencariku!” Sania berbalik dan mulai berjalan cepat menuju bagian depan taman bermain, tempat dimana Daniel duduk tadi.

“Apa kau tidak mau bermain lagi? Masih banyak wahana bermain yang belum kita coba!” Eric mengikuti kepergian Sania dari belakang.

Sania tidak menanggapi ajakan Eric barusan. Yang sekarang harus ia lakukan adalah berusaha mencapai lokasi tujuannya sesegera mungkin sebelum Daniel bertambah marah karena terlalu lama menunggunya.

Baru juga berjalan mencapai bagian tengah area taman bermain, Sania menghentikan langkahnya ketika melihat Daniel dari arah lain berjalan tergesa-gesa ke arahnya. Sorot mata pria itu berapi-api seperti sedang menahan amarah. Sania tau pria itu pasti marah besar padanya.

Daniel berhenti tepat di hadapan Sania. Matanya memanas, sama seperti hatinya ketika menemukan wanita yang dicarinya bersama dengan pria lain. Eric kini ikut berhenti tepat di sebelah Sania.

Rahang Daniel mengeras dan nafasnya makin memburu ketika menyadari dua orang di depannya itu mengenakan kaos yang serupa. Kaos dengan gambar hati yang apabila orang-orang melihat mereka akan langsung menebak mereka adalah sepasang kekasih. Seberapa keras pun Daniel berusaha mengabaikan tentang pemikirannya itu, namun sulit. Emosinya terus memuncak ketika melihat sebuah seringai dari tatapan Eric padanya.

“Maafkan aku, aku terlalu senang bermain-main hingga lupa waktu.” Sania memberanikan diri membuka suara.

Daniel melirik tajam ke arah Sania. “Kau terlihat sangat senang bermain bersama Eric.”

Sania tercengang. Ia merasa Daniel telah salah paham. “Aku tidak sengaja bertemu dengannya disini!”

“Tentu saja kami bersenang-senang.” Eric ikut bicara. Ia mulai merapatkan dirinya pada Sania dan merangkul mesra wanita itu hingga membuat Sania dan Daniel kompak melemparkan tatapan terkejut.

“Hei, apa yang kau lakukan?” Sania meronta dan mencoba membebaskan diri dari rangkulan Eric.

“Mengapa kau bisa ke tempat ini? Bukankah kau orang yang sangat sibuk?” Daniel berusaha sekuat tenaga untuk bersikap tenang.

“Sama sepertimu!” Eric menatap tajam Daniel. “Sesibuk apapun, aku menyempatkan diri untuk ke tempat ini demi seseorang. Tapi bedanya, aku tidak menyia-nyiakan waktu untuk menemani orang itu.” Eric makin menatap Daniel telak.

Sania melepaskan dengan kasar rangkulan Eric di bahunya. Tatapannya penuh dengan amarah. Ia marah dengan sikap pria itu yang selalu seenaknya. Jangan bersikap seolah hubungan kita sudah baik-baik saja, ingin sekali Sania meneriaki kalimat itu tepat di depan Eric.

“Apa kau bersama dengan tunanganmu? Harusnya kau mencarinya, bukan malah mengikutiku terus menerus!” Ucap Sania nampak kesal. Ia mengira seseorang yang dimaksud Eric tadi adalah Laura, tunangan Eric.

Sementara Daniel malah tidak berpikiran seseorang yang dimaksud Eric tadi adalah Laura. Ia justru yakin Sanialah yang dimaksudkan Eric. Kini ia dapat membaca dengan jelas bahwa pria itu sangat menginginkan Sania dan berencana merebut wanita itu darinya.

Cukup lama Daniel dan Eric hanya saling melemparkan tatapan tajam, sampai akhirnya Daniel dengan berani meraih tangan Sania dan menariknya hingga wanita itu mau tak mau berpindah posisi menjadi di sebelah Daniel.

“Aku juga tidak akan menyia-nyiakannya!” Ucap Daniel tanpa mengalihkan sedikit pun tatapan tajamnya di mata Eric.

Sania tidak mengerti dengan pembicaraan antara Daniel dan Eric. Belum juga Sania memahami perkataan Daniel barusan, pria itu kembali menarik paksa tangannya untuk berbalik dan meninggalkan Eric yang hanya bisa mematung di tempatnya berdiri sambil menatap kepergian Sania dan Daniel dengan penuh amarah.

 

To be continued…

P.S: Makasih buat yang udah baca & komen. Part berikutnya akan lebih seru.. :D/

Iklan

One comment on “[Berdebar] – [7] Jealously

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s