[Berdebar] – [8] Feeling

Quote Berdebar - On Wattpad_pitsansi

Main Cast: KIM WOO BIN as DANIEL RIGEL

BAE SUZY as SANIA OSCAR

OK TAECYEON as ERIC STEVANUS

IM YOONA as LAURA LARASATI

Sinopsis  |  Part 1  |  Part 2  |  Part 3  |  Part 4  |  Part 5  |  Part 6  |  Part 7  |  Part 8  |  Part 9

Part 10  |  Part 11  |  Part 12 [Proteksi]  |  Part 13 [Proteksi]  |  [End] Part 14 [Proteksi]

 

“Dan hebatnya lagi, hanya dengan menatap wajah yang penuh dengan tawa itu dari kejauhan, dapat membuat jantungku berdetak tak karuan.”

– Daniel Rigel-

 

“Bisakah kau melepaskan tanganku? Aku tau arah menuju tempat parkir. Kau tidak perlu menuntunku seperti ini!” Sania tidak berhenti berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Daniel di tangannya.

Daniel tidak bergeming. Tangannya semakin mencengkram kuat tangan Sania agar wanita itu terus mengikuti langkah-langkah kakinya yang cepat.

“Kita belum akan pulang sekarang. Aku belum bermain sama sekali di tempat ini!” Daniel berkata tanpa menghentikan langkahnya.

“Apa?” Sania mendadak berhenti melangkah. Bersamaan dengan itu pula Daniel ikut berhenti dan melepaskan genggamannya. “Bukankah kau tidak tertarik sama sekali untuk mencoba wahana yang ada di taman bermain ini?” Lanjutnya lagi.

“Awalnya memang begitu. Tapi mulai sekarang aku berubah pikiran!” Daniel menatap Sania dengan seulas senyuman. “Aku akan menemanimu mencoba wahana-wahana yang ada di taman bermain ini!”

“Aku sudah mencobanya!” Sania menyangkal cepat ucapan Daniel.

“Kalau begitu kau yang menemaniku mencoba wahana-wahana itu!” Kali ini nada suara Daniel terdengar seperti memerintah.

Sania menggeleng cepat. “Aku tunggu disini saja!” Pintanya.

“Tidak bisa! Apa kau lupa permintaan ibuku yang meminta foto kita berdua?”

“Bukankah kau bilang akan meminta bantuan orang lain untuk mengeditnya?”

“Mulai sekarang aku berubah pikiran!”

“Apa?” Sania masih belum mengerti dengan banyaknya pikiran Daniel yang berubah secara tiba-tiba.

“Kau tunggu sebentar disini!” Daniel segera berlari menuju stand yang menjual aneka juice.

Tidak beberapa lama kemudian Daniel kembali dengan membawa dua gelas juice di tangannya. Ia menyerahkan juice mangga pada Sania, sedangkan juice jeruk untuknya sendiri. Ia tau Sania menyukai juice mangga. Wanita itu pernah mengatakan kepadanya.

Sania menyambut pemberian Daniel dengan senang hati. Ia memang sedang haus karena terus berteriak ketika mencoba wahana-wahana menantang tadi.

Daniel terus memperhatikan Sania dengan senyuman riangnya. Namun perlahan senyumannya memudar ketika melihat kaos yang dikenakan Sania. Hatinya memanas ketika teringat kembali Eric juga mengenakan kaos yang sama yang sedang Sania kenakan sekarang.

Menyeruput juice melalui sedotan dirasa Sania akan terlalu lama menghilangkan dahaganya. Oleh karena itu ia memilih cara praktis dengan membuka penutup cup juice miliknya, lalu mulai menenggak isinya perlahan demi perlahan.

Sebuah ide perlahan terlintas di kepala Daniel. Dengan sengaja ia menyenggol cup juice milik Sania hingga hampir separuh isi cup itu tumpah mengotori kaos yang dikenakan Sania.

“Maafkan aku,” kata Daniel yang kini tengah berakting penuh penyesalan.

Sania menunduk mengamati kaosnya yang kotor karena tumpahan juice mangga tadi. Kaos yang berwarna putih itu jadi kotor dengan noda kekuningan.

“Kau ini!” Sania menyeka kaosnya yang kotor dengan jari-jarinya.

“Sebaiknya kau mengganti pakaianmu!” Daniel mencoba menyarankan.

“Tidak usah, ini tidak terlalu kotor!”

“Kau harus menggantinya!” Lagi-lagi nada suara Daniel terdengar seperti memerintah. “Aku akan membelikan kaos lain untukmu!”

Sania hanya terdiam, tapa berniat membantah.

—<><>—

Sania hampir tertawa terbahak-bahak ketika dirinya baru saja keluar dari toilet setelah mengganti kaosnya. Ia melihat Daniel berdiri tidak jauh dari pintu toilet. Pria itu juga telah mengganti pakaiannya dengan kaos yang serupa dengannya.

Yang membuat Sania tidak dapat menahan tawanya adalah gambar kaos yang dikenakan mereka adalah gambar boneka maskot taman bermain ini yang penuh dengan warna, sangat lucu bila dikenakan oleh Daniel yang arogan dan pemarah.

“Apanya yang lucu?” Daniel tidak terima ditertawakan seperti itu oleh Sania.

“Kau lucu sekali mengenakan kaos itu,” Sania masih terbahak. Perutnya terasa sakit karena tertawa berlebihan.

Daniel hanya bisa berdecak kesal menanggapi komentar Sania. Ia memperhatikan penampilannya sekali lagi. Ia sendiri bahkan sulit mempercayai ia membeli dan mengenakan kaos itu di badannya.

“Sudah jangan mengomentariku!”

“Baiklah, baiklah.” Sania berusaha keras menyudahi tawa gelinya. Ia kini berjalan beriringan di sebelah Daniel yang mulai mengitari pandangannya ke sekitar.

Berbeda dari sebelumnya, kali ini Sania merasa nyaman ketika menyadari tengah mengenakan kaos yang serupa dengan kaos yang dikenakan Daniel. Mungkin karena Sania menyadari bukan hanya mereka yang mengenakan kaos serupa. Banyak diantara pengunjung yang telah berganti pakaian dengan kaos yang sama. Namun tetap saja siapa pun yang melihat Sania dan Daniel, akan mengira mereka adalah sepasang kekasih.

“Wahana apa yang sebaiknya kita coba pertama?” Daniel nampak berpikir sambil memindai pandangan ke sekitarnya. “Sepertinya wahana itu mengasyikan!” Daniel menunjuk salah satu wahana biang lala yang berada di sudut kanan.

“Apakah kau yakin?” Tanya Sania sinis. “Permainan itu kurang menantang! Bagaimana kita coba wahana yang disana?” Sania menunjuk sebuah wahana di sudut sebelah kiri. Permainan yang dipilih Sania tidak tanggung-tanggung. Ia memilih wahana histeria, wahana yang mengharuskan pemain hanya duduk diam lalu akan dijatuhkan dengan kecepatan extra sehingga pemain akan merasakan tubuhnya melayang dari kursi yang didudukinya.

“Apa kau bercanda?” Daniel mendadak menegang di tempatnya berdiri ketika mendengar suara teriakan nyaring para pemain yang tengah bermain di wahana yang ditunjuk Sania tadi.

“Aku tidak sedang bercanda. Ayo!” Sania menuntun Daniel untuk menuju ke wahana tersebut hingga mengikuti antrian dengan tertib.

Mereka menunggu tidak lama hingga akhirnya tiba giliran mereka untuk bermain. Wajah Daniel nampak pucat bahkan sebelum permainan di mulai. Ia kini sudah duduk di bangku permainan itu, tepat di sebelah Sania.

Sania yang menyadari ekspresi panik Daniel, mendadak kembali tertawa geli, tawanya bahkan sangat sulit ia kendalikan.

Daniel menoleh dengan tatapan dingin. “Apa yang kau tertawakan?”

Tidak lama setelah itu terdengar suara petugas yang memberitahukan bahwa permainan akan segera dimulai. Mau tak mau Daniel mengakhiri tatapan dinginnya pada Sania. Wajahnya kembali pucat pasi.

Tawa Sania tidak juga surut sepanjang permainan. Wajah pucat bercampur panik di wajah Daniel sukses mengocok perut Sania sedari tadi.

Daniel hilang kesabaran. Setelah turun dari wahana mengerikan itu ia mencoba membekap mulut Sania dengan tangannya, berharap wanita itu segera menghentikan tawanya yang terdengar sangat geli.

“Apa kau tidak bisa diam?” Kesal Daniel masih dengan wajah pucat dan tangannya berusaha membekap mulut wanita itu.

Usaha Daniel cukup berhasil. Kini tawa Sania mulai mereda, walau tubuhnya masih berguncang karena tawanya itu.

“Ekspresi wajahmu lucu sekali!” Ucap Sania di sela-sela tawanya yang mulai mereda.

“Sudahlah!” Daniel berbalik dan mendahului Sania untuk segera keluar dari wahana tersebut.

Sania mengekor dari belakang, namun kemudian berhenti ketika melihat foto-foto hasil jepretan petugas wahana selama permainan berlangsung tadi terpajang di dinding.

“Daniel, kemari sebentar!” Panggil Sania tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari foto-foto itu.

Daniel menoleh dengan malas, namun nampak tertarik ketika melihat tatapan antusias Sania pada foto-foto yang terpajang di dinding. Ia kemudian berjalan mendekati Sania.

“Lihat ekspresi wajahmu di foto ini!” Sania menunjuk salah satu foto yang memperlihatkan ekspresi ketakukan Daniel ketika berada di puncak tertinggi wahana yang mereka mainkan tadi. Tawanya kembali terdengar.

Mata Daniel membulat ketika menyadari dirinya terlihat seperti orang bodoh di foto itu. “Apa-apaan ini!” Daniel tidak terima. Ia berniat mecopot foto itu dari dinding, namun Sania telah mendahuluinya.

“Akan kutunjukkan pada ibu.” Sania menjauhkan foto itu dari jangkauan Daniel, hingga membuat pria itu menatapnya marah.

“Apa kau berani?” Mata Daniel berapi-api.

“Tentu saja!” Ucap Sania meyakinkan. Ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi ketika mengucapkan kalimat itu.

Mata Sania kembali beralih memperhatikan foto-foto lain yang masih banyak menempel pada dinding tersebut. Dengan gerakan cepat, ia mengambil semua foto-foto yang memperlihatkan dirinya bersama dengan Daniel sebelum pria itu mendahuluinya.

“Apa yang kau lakukan?” Daniel masih heran memperhatikan tingkah Sania yang tidak bisa diam mencopot beberapa lembar foto di dinding itu.

Sania tidak menjawab. Ia memandang satu per satu foto yang kini telah berada di genggamannya dengan tatapan puas. Semua foto itu selalu mengundang tawanya untuk ia keluarkan. Ekspresi panik Daniel di foto-foto itu selalu membuatnya tertawa hingga sulit ia kendalikan.

Daniel mulai tersadar. “Apa yang akan kau lakukan dengan foto-foto itu?” Tanyanya mulai curiga.

“Akan kutunjukkan pada ibu,” ucapnya masih geli menahan tawa.

“Lihat saja kalau kau berani melakukannya!” Ancam Daniel.

Sania tidak terpengaruh. Dengan hati-hati ia menyimpan foto-foto itu ke dalam tasnya sebelum Daniel berniat untuk merampasnya.

Daniel merasa tidak boleh kalah dari Sania. Seketika muncul idenya untuk membuat wanita itu merasakan hal yang sama dengannya.

“Sekarang giliranku!” Daniel menarik paksa Sania untuk bergerak mengikuti langkahnya.

Sania terlambat untuk menghindar. Ia kini terseret paksa oleh Daniel menuju salah satu wahana bermain yang paling ingin dihindarinya. Tubuhnya mematung di sebelah Daniel ketika pria yang menariknya itu telah menghentikan langkahnya tepat di depan pintu wahana bermain itu.

“U-untuk apa kita kesini?” Tanya Sania berusaha menutupi ketakutannya.

“Tentu saja mencoba wahana itu!” Daniel menjawab dengan santai. Senyumnya mengembang ketika menangkap ekspresi ketakutan di wajah Sania.

Sania memperhatikan wahana bermain di depannya yang didominasi warna hitam dengan ornamen-ornamen menyeramkan seperti tengkorak dan semacamnya. Sania bergidik negeri hanya dengan melihat dari luar wahana itu.

“Kau saja yang mencobanya!” Sania berbalik hendak menjauh dari wahana itu, namun cengkraman tangan Daniel terus menahan langkahnya sejak tadi.

“Kita akan masuk ke dalam!” perintah Daniel.

“Ki-ta?” Sania terbelalak.

Daniel mengangguk. “Ya, KAU dan AKU!” tegasnya kemudian.

Sania mendadak panik. Ia menyesal karena telah memberitahu Daniel tentang ketakutannya pada hantu dan hal-hal yang berbau misteri beberapa waktu lalu. Ia akan mati di tempat bila dipaksa masuk ke tempat menyeramkan seperti itu.

“Kepalaku pusing sekali! Sepertinya kita harus pulang!” ucap Sania dengan nada lemah yang dibuat-buat. Ia memegang kepalanya dengan salah satu tangannya yang bebas.

Namun sepertinya acting Sania belum cukup bagus. Daniel masih bisa menebak wanita itu hanya berpura-pura sakit untuk menghindari permainan yang menakutkan itu.

“Tidak ada alasan! Aku tau kau hanya berpura-pura. Ayo ikut aku!” Daniel melanjutkan usahanya untuk menarik paksa Sania hingga memasuki wahana rumah hantu.

“Daniel kumohon! Wahana apa pun boleh, asal bukan yang ini!” Sania masih sempat memohon ketika dirinya dan Daniel hampir masuk ke dalam wahana tersebut.

“Kita coba saja dulu. Mungkin kau mendadak jadi pemberani setelah keluar dari wahana ini!”

Bulu kuduk Sania berdiri ketika melangkahkan kakinya memasuki rumah menyeramkan itu. Baru juga beberapa langkah, jantung Sania hampir copot saat disambut dengan jeritan suara hantu perempuan tepat di sebelahnya. Sania spontan ikut berteriak. Ia berencana untuk berbalik pergi sebelum ia masuk ke area itu lebih dalam lagi. Namun lagi-lagi tangan Daniel menghentikannya.

“Ini baru permulaan!” Bisik Daniel dengan nada yang sangat menyeramkan.

Kaki Sania sudah sangat lemah untuk melawan. Suasana sekitar yang sangat gelap membuatnya semakin ketakutan. Keringatnya bercucuran di keningnya. Ia hampir kehabisan nafas di dalam sana.

Daniel tiba-tiba saja melepaskan genggamannya ketika mereka telah tiba di bagian tengah rumah tersebut. Sania makin panik. Ia tidak mungkin melarikan diri saat ini. Selain karena ia tidak tau arah jalan menuju pintu keluar, juga karena suasana di sekitarnya sangat menyeramkan baginya.

“Daniel kau dimana?” Sania berusaha menggapai udara, berharap dapat menyentuh Daniel. Sialnya, pria yang dipanggilnya tidak juga menyahut untuk waktu yang cukup lama. Sania paling benci suasana seperti ini. Ia bahkan hampir menangis ditinggal seorang diri di tempat gelap seperti ini.

Sania berharap siapa pun segera menolongnya. Namun sepertinya ia memang sedang tidak beruntung. Pengunjung wahana rumah hantu sangat sepi. Tidak ada lagi pengunjung yang masuk ke dalam setelah Daniel dan Sania.

“Daniel, kumohon jangan bercanda!” Sania masih meraba-raba udara. Air matanya hampir tumpah dari matanya. Ia benar-benar sangat takut menghadapi suara-suara menyeramkan dan juga kejutan-kejutan potongan-potongan tubuh boneka yang berlumuran darah, membuat jantungnya hampir copot dan kakinya lemas sejadi-jadinya.

Sania memejamkan matanya dan menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua telapak tangannya. Ia kini berlutut karena kakinya sudah tak sanggup lagi menopang tubuhnya untuk berdiri lebih lama.

“ARRGGH!!!” Sania terlonjak kaget dan berteriak nyaring ketika merasakan sesuatu menyentuh bahunya pelan.

“Sania, ini aku.” Suara Daniel terdengar sangat dekat. “Apa kau baik-baik saja?”

Dengan gerakan cepat, Sania langsung memeluk Daniel. Ia mulai menangis. Kali ini ia sudah tidak sanggup menahan tangisannya.

Daniel terkejut karena pelukan Sania yang tiba-tiba. Jantungnya berdetak cepat saking terkejutnya. Ia terpaku untuk waktu yang cukup lama, sampai kemudian suara tangisan sedih Sania menggerakkan tangannya untuk mengelus-ngelus punggung wanita itu untuk membuatnya tenang.

Detak jantung Daniel masih belum stabil. Baru kali ini ia memeluk seorang wanita selain ibunya sendiri.

“Maafkan aku,” bisik Daniel pelan. Ia masih berusaha untuk membuat Sania tenang dan menghentikan tangisnya. Ia mendadak merasa sangat menyesal telah membuat Sania menangis. Hatinya sangat sakit ketika mendengar tangisan Sania. Ia tidak menyangka, membuat Sania menangis akan membuat hatinya sesakit ini.

Aku tidak akan pernah membuatmu menangis lagi, tekad Daniel dalam hati.

Mereka bertahan dalam posisi mereka masing-masing untuk waktu yang cukup lama.

—<><>—

Daniel lebih banyak melamun sepanjang hari ini. Berkas-berkas di atas meja kerjanya belum ia sentuh sama sekali sejak pagi tadi. Pikirannya melayang pada kejadian kemarin di wahana rumah hantu saat Sania memeluknya dengan tiba-tiba. Setelah kejadian itu mereka tidak banyak berkomunikasi. Daniel terlalu gugup untuk memulai pembicaraan, sedangkan Sania nampaknya masih sangat marah dengan sikapnya yang keterlaluan.

Lamunan Daniel terpaksa harus diakhiri ketika dering ponsel di atas meja kerjanya menyadarkannya. Daniel segera menjawab panggilan itu setelah mengetahui yang menelepon adalah ibunya.

“Halo?”

“Daniel, apa kau sedang sibuk?” Ibunya bertanya dari seberang telepon.

“Tidak juga. Ada apa?”

“Ada yang ingin ibu tanyakan tentang Sania.”

Deg!

Daniel berdebar hanya dengan mendengar nama Sania disebut. Seseorang yang terus saja muncul di kepalanya sejak tadi.

“A-ada apa dengannya?” Daniel berusaha menanggapi setenang yang ia bisa, walau nada suaranya terdengar bergetar.

“Ia tidak apa-apa. Maksud Ibu, apa kalian bersenang-senang kemarin? Ibu tidak sempat menanyakanmu kemarin karena kau pulang larut sekali.”

“Oh,” Daniel menghembuskan nafas lega. “Kami bersenang-senang. Sangat menyenangkan pergi bersamanya.”

“Baguslah kalau begitu. Ibu sangat senang mendengarnya,” nada suara ibu Daniel terdengar penuh dengan keceriaan.

Daniel turut bahagia menyadari ibunya sangat ceria sejak berkenalan dengan Sania. Dengan hadirnya Sania, Daniel jadi merasa semakin dekat dengan ibunya.

“Oh iya, apa hari ini Eric datang ke kantormu?”

“Eric?” Daniel mengerutkan keningnya ketika ibunya menyebut nama sahabat lamanya itu.

“Iya, kemarin Eric datang ke kantormu. Ia mengatakan ingin berkunjung dan menyampaikan sesuatu padamu, tapi Ibu bilang kau sedang pergi bersama Sania ke taman bermain. Akhirnya ia berpamitan dan mengatakan akan kembali lain waktu.”

Penjelasan dari ibunya itu membuat Daniel sedikit terkejut sekaligus heran. Ia mulai menyadari alasan apa yang membawa Eric menyusulnya ke taman bermain. Bukan suatu kebetulan seperti yang ia kira, tapi karena Sania. Karena wanita itu pergi bersamanya.

“Apa ia tidak datang hari ini?” Ibu Daniel kembali mengulang pertanyaannya. “Daniel? Apa kau mendengar Ibu?”

—<><>—

“Sayang, apa kau menginginkan konsep khusus untuk acara pernikahan kita nanti?” Tanya Laura yang tengah duduk berdampingan dengan Eric di salah satu restaurant mewah siang hari itu. Tangan wanita itu bergelayutan manja di lengan Eric.

“Terserah padamu!” jawab Eric tanpa minat. Ia menyesap kopi hitam yang sudah tinggal setengah di cangkir miliknya.

“Apa kau setuju bila pesta pernikahan kita nanti didominasi warna merah?” Laura nampak begitu antusias membayangkan rencana pesta pernikahannya dengan Eric enam bulan lagi. Meski masih lama, mereka sudah mulai merencanakannya jauh-jauh hari agar semuanya berjalan dengan lancar.

“Lakukan saja semua sesuai dengan keinginanmu!” Eric kembali menanggapi dengan nada malas.

Laura melepaskan pelukannya di lengan Eric, lalu mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan sikap tak acuh tunangannya itu.

“Ada apa denganmu? Kau seperti tidak mengharapkan pernikahan kita!” kesal Laura.

Eric melirik Laura sesaat, lalu matanya beralih menatap sepiring salad yang baru tersentuh sedikit oleh wanita itu.

“Apa makanmu sudah selesai? Aku masih banyak pekerjaan di kantor!” Sikap Eric sangat dingin. Perkataannya tadi terdengar tidak lembut sama sekali.

Laura tercengang di tempatnya, menyadari sikap Eric yang menurutnya sangat berbeda dari sebelum mereka bertunangan. Eric tidak pernah sedingin ini sebelumnya. Pria itu bahkan selalu bersemangat ketika Laura memulai pembicaraan mengenai pernikahan, sangat berbeda dengan sikap yang ditunjukkan Eric belakangan ini.

—<><>—

Malam sudah hampir larut, Daniel baru pulang ke rumahnya dari kantor. Pikirannya yang kacau membuatnya kesulitan berkonsentrasi dalam menyelesaikan semua berkas-berkas pekerjaannya. Alhasil, ia baru bisa pulang di atas jam sembilan malam.

Daniel lelah, lelah badan dan juga pikiran. Ia berniat untuk langsung naik ke kamarnya di lantai dua rumahnya. Namun suara cengkrama dua orang wanita dari ruang tamu, menariknya untuk mengalihkan langkah kakinya untuk mendekati sumber suara itu.

Semakin dekat jarak Daniel dengan ruang tamu, semakin jelas pula suara akrab kedua wanita itu di telingan Daniel. Daniel tau salah satu suara itu adalah suara ibunya yang terdengar sangat gembira, sedangkan suara renyah wanita yang satu lagi mendadak membuat jantung Daniel berdebar. Suara itu terdengar penuh dengan tawa dan keceriaan yang membuat Daniel mendadak membayangkan sang pemilik suara indah itu.

Daniel berdiri terpaku di pintu ruang tamu sambil menatap dua orang wanita yang masih bercengkrama penuh keakraban satu sama lain. Ia berdiri cukup lama tanpa berniat untuk mengganggu suasana bahagia kedua orang itu.

Mata Daniel semakin tertarik menatap seorang wanita yang sedang tertawa lepas di samping ibunya. Tawanya sangat alami. Dan hebatnya lagi, hanya dengan menatap wajah yang penuh dengan tawa itu dari kejauhan, dapat membuat jantungnya berdetak tak karuan.

 

To be continued…

 

WARNING: 3 part terakhir akan diprotect. Tetap tinggalkan komentar bila ingin terus membaca hingga akhir. Terimkasih 🙂

Iklan

3 comments on “[Berdebar] – [8] Feeling

  1. Ak baru mau nanyain, kpn part 8 nya di post. Hehehe.
    To be continued nya pasti pas lagi seru”nya.. huhu..
    Kira” daniel sadar gk ya klo dia lagi jatuh cinta sama sania? Gmn dgn sania ya?
    Trs, kira” pernikahannya eric dan laura akan lanjut apa gk?
    makin gk sabar nih nunggu part selanjutnya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s