[Berdebar] – [9] Konflik

Berdebar_pitsansi_part 9

Main Cast: KIM WOO BIN as DANIEL RIGEL

BAE SUZY as SANIA OSCAR

OK TAECYEON as ERIC STEVANUS

IM YOONA as LAURA LARASATI

Sinopsis  |  Part 1  |  Part 2  |  Part 3  |  Part 4  |  Part 5  |  Part 6  |  Part 7  |  Part 8  |  Part 9

Part 10  |  Part 11  |  Part 12 [Proteksi]  |  Part 13 [Proteksi]  |  [End] Part 14 [Proteksi]

 

“Mengejarmu semakin menarik.”

-Eric Stevanus-

 

Daniel menatap wanita itu—Sania—tanpa kedip. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan wanita itu sejak kejadian tak terduga di wahana rumah hantu kemarin. Daniel masih sangat gugup dan apakah Sania juga masih sangat marah padanya?

Daniel terkejut ketika wanita yang ditatapnya tiba-tiba membalas tatapannya. Tawa Sania seketika berhenti ketika matanya bertemu dengan mata Daniel. Ibu Daniel yang menyadari perubahan ekspresi wajah Sania, ikut menoleh ke arah pandang Sania ke pintu.

“Daniel, kau pulang larut sekali!” Ibu Daniel menyapanya dengan penuh antusias. “Kemarilah, ada yang ingin ibu tunjukkan padamu!” Ia memberikan kode kepada Daniel untuk mendekatinya.

Daniel masih terkejut karena tak menyangka keberadaannya disadari. Padahal ia tidak berniat untuk bergabung karena khawatir akan merusak suasana. Daniel akhirnya berjalan dengan langkahnya yang kaku. Ia masih merasa gugup ketika menyadari Sania masih terus menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

“Ibu merasa kesepian, jadi mengajak Sania untuk menemani Ibu!” ucap ibu Daniel ceria sambil menepuk-nepuk sayang punggung tangan Sania.

Mau tak mau Daniel menatap Sania ketika ibunya menyebut nama wanita itu. Tatapan mereka kembali bertemu untuk beberapa saat sampai akhirnya Daniel mengalihkannya.. Ia merasa sedang ada yang tidak beres dengan dirinya. Tidak biasanya ia bersikap aneh seperti ini. Kini ia sudah duduk di sofa yang berada di depan Ibunya dan Sania.

“Ibu sudah menentukan foto untuk dipajang di meja kerjamu.”

Daniel menatap ibunya dengan penuh rasa penasaran. Sedetik kemudian ia terbelalak ketika melihat foto-foto dirinya bersama dengan Sania saat di taman bermain telah terhampar penuh di meja kaca yang berada di tengah-tengah mereka. Semua foto-foto itu tidak ada yang memperlihatkan Daniel dalam keadaan yang baik. Wajahnya di foto-foto tersebut sangat pucat dan panik, jauh dari image-nya selama ini.

“Apa-apaan ini?” tanya Daniel tidak terima. Mata Daniel sontak beralih menatap Sania yang kini justru terlihat seperti sedang mencoba menahan tawa.

“Ibu memilih foto ini.” Ibu Daniel mengambil salah satu foto di atas meja dan menunjukkannya kepada Daniel.

Daniel menatap foto itu dengan cermat. Ingatannya seperti terputar kembali ke adegan yang tergambar dalam foto tersebut. Saat ia dan Sania baru saja turun dari wahana bermain histeria. Ia yang kesal karena mendengar tawa nyaring Sania, berusaha ia redam dengan membekap mulut wanita itu. Semua tergambar jelas dalam foto itu. Menggambarkan betapa riangnya ekspresi wajah Sania dan juga betapa pucat dan kesalnya Daniel pada saat itu.

“Mengapa harus foto itu?” keluh Daniel kemudian. Ia keberatan dengan pilihan ibunya. Walaupun memang tidak ada satu pun foto yang menampilkan dirinya dalam keadaan yang baik, paling tidak bukan foto itu yang dipilih ibunya. Karena menurutnya foto itu justru yang terburuk dari semua foto yang menurutnya buruk.

“Kau lihat wajah riang Sania di foto ini?” Ibu Daniel kembali melirik foto yang digenggamnya, lalu memperlihatkannya sekali lagi kepada Daniel. “Ekspresinya sangat alami. Hanya dengan melihat foto ini, kau akan semakin bersemangat dalam bekerja!”

“Tapi wajahku di sana sangat buruk!” Daniel bersikeras menolak.

“Wajahmu tidak terlalu penting. Yang kau butuhkan adalah gambar Sania. Kau harus memajang foto ini di meja kerjamu besok!”

Ibu Daniel tetap pada pendiriannya, sementara Sania mulai terbahak di sebelahnya ketika memperhatikan tingkah keberatan Daniel sedari tadi. Pria itu nampak marah dan tidak suka dengan pilihan ibunya.

Daniel kembali melirik Sania yang masih tertawa riang melihat ekspresinya kini. Anehnya, bukan perasaan kesal seperti biasanya ketika melihat wanita itu menertawakannya, Daniel justru merasa lega karena Sania masih bisa menertawakannya. Itu berarti wanita itu sudah tidak marah padanya.

—<><>—

“Apa kau masih marah padaku?” Daniel mengawali pembicaraan di dalam mobilnya yang melaju membelah jalan sepi ibu kota pada malam hari. Ia sedang mengantar Sania pulang ke apartemen sederhana miliknya.

Malam sudah semakin larut, ibu Daniel berkali-kali meminta Sania untuk bermalam di rumahnya, namun Sania bersikeras menolaknya dengan halus.

“Menurutmu?” Sania menanggapi dengan sikap dingin.

“Maafkan aku.” ucap Daniel penuh dengan penyesalan. Ia bahkan sulit mempercayai dirinya baru saja mengucapkan kata itu. Sebuah kata yang hampir tidak pernah ia lontarkan dalam hidupnya. Dan sekarang ia mengucapkan kata itu dengan sangat mudahnya kepada Sania.

“Sudahlah, aku sudah tidak ingin mengingatnya lagi!” Sania nampak tidak suka karena topik pembicaraan mereka memaksanya kembali mengingat kejadian mengerikan di wahana rumah hantu beberapa waktu lalu. Terlebih hari sudah sangat gelap. Ia hanya khawatir tidak bisa tidur nyenyak malam ini.

Daniel menurut. Ia tidak lagi bersuara. Paling tidak ia sudah menyampaikan permintaan maafnya dengan tulus.

Daniel melirik Sania berkali-kali. Ada sesuatu yang sangat ingin ia tanyakan pada Sania, sesuatu yang tiba-tiba saja memenuhi pikirannya sejak siang tadi.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Daniel akhirnya, memberanikan diri.

Sania tertarik untuk menoleh ke arah Daniel. Dalam hatinya ia merasa aneh dengan sikap pria di sebelahnya itu. Tidak biasanya Daniel meminta ijin untuk bertanya padanya.

“Apa kau mengenal Eric sebelumnya?”

Pertanyaan Daniel barusan membuat Sania sedikit terkejut. Ia segera mengalihkan pandangannya ke jalanan lurus di depannya.

“M-mengapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?” tanya Sania sedikit gugup.

“Aku hanya merasa aneh dengan sikap Eric yang seolah telah lama mengenalmu. Dan juga…” Daniel menggantungkan kalimatnya beberapa saat, baru melanjutkannya kembali, “Tatapanmu padanya sangat aneh!”

Deg!

Sania merasakan sebuah hantaman keras di dadanya. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Daniel menebak seperti itu? Apa tatapan matanya pada Eric dapat terbaca sejelas itu di mata Daniel?

“Aku sudah pernah bilang padamu kalau aku baru mengenal Eric di pesta pertunangannya, bukan?”

Daniel menoleh, memperhatikan ekspresi wajah Sania sekali lagi ketika mengatakan hal itu. Ia lalu kemudian mengangguk berusaha mempercayai ucapan wanita itu.

“Aku lelah. Bisakah kau membangunkanku bila sudah tiba di apartemenku?” Sania menguap sekali. Ia terlihat sangat kelelahan hari ini.

Daniel mengangguk pelan. Ia memang sudah menyadari wanita itu sangat mengantuk. Sania terus menguap sejak masuk ke mobilnya. Biar bagaimana pun, Sania sudah sangat baik meluangkan waktu untuk menemani ibunya seharian.

Suasana di dalam mobil sangat hening untuk waktu yang cukup lama. Sania mulai terlelap, sementar Daniel nampak fokus mengendarai laju mobilnya di tengah jalan raya.

Tidak lama kemudian mobil Daniel telah berhenti tepat di depan apartemen sederhana Sania. Setelah mematikan mesin mobilnya, ia menoleh ke arah Sania yang masih tertidur pulas di sampingnya. Kepala wanita itu miring menghadapnya, sehingga Daniel dapat menatap dengan jelas wajah polos Sania saat sedang tertidur.

Daniel menikmatinya. Ia terlalu menikmati memandang wajah cantik Sania dengan seksama sehingga tidak tega untuk membangunkannya.

Daniel baru menyadari Sania benar-benar cantik. Wajah itu tidak banyak berubah sejak pertemuan pertama mereka, hanya saja Daniel terlalu terlambat untuk mengakui wanita itu memang sangat cantik.

Ia memperhatikan satu per satu bagian wajah Sania. Alis yang lebat dan rapih, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, kulit yang halus dan.. bibir tipis yang berwarna merah muda.

Deg!

Daniel mendadak gugup ketika berusaha mendeskripsikan bagian wajah Sania yang terakhir disebut itu. Daniel berkali-kali menarik nafas panjang seperti kehabisan nafas ketika berusaha melirik sekali lagi bagian sensitif itu. Ia tidak henti-hentinya mengagumi bibir Sania dan juga wajah cantik itu.

Merasa kurang puas hanya dengan memandang, Daniel memberanikan diri untuk menyentuh wajah itu. Jarinya bergerak perlahan merapihkan poni Sania yang menutupi sebagian wajah wanita itu. Bersamaan dengan itu pula irama jantungnya semakin berdetak hebat. Kini ia tidak lagi berusaha menghindari perasaan itu, kini ia justru menikmatinya. Ia menikmati debaran jantungnya ketika bersama dengan Sania.

Tidak lama kemudian Sania bergerak. Matanya ia kerjapkan berkali-kali hingga terbuka ketika menyadari ada sesuatu yang menyentuh wajahnya. Ia melihat tangan Daniel yang melakukannya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Sania sedikit terkejut.

“A-aku hanya berusaha membangunkanmu!” jawab Daniel cepat. Ia berharap alasannya itu cukup masuk akal di kepala Sania.

Sania menegakkan tubuhnya lalu menatap ke sekitar. Ia sudah tiba di apartemennya. Entah sudah berapa lama ia tertidur di dalam mobil Daniel.

“Kalau begitu aku masuk dulu. Terima kasih telah mengantarku.” Sania membuka pintu mobil di sebelahnya lalu perlahan turun dari sana.

“Ya.” hanya kata itu yang berhasil terlontar dari mulut Daniel. Padahal ia ingin sekali melanjutkan dengan kata-kata ‘istirahatlah! Semoga mimpi indah’, namun lagi-lagi harga dirinya yang tinggi kembali menguasainya dan menghalanginya untuk mengeluarkan kalimat itu.

Sania sudah benar-benar turun dari mobil Daniel. Ia berjalan dengan langkah lemah memasuki gedung apartemen itu.

Daniel menyalakan kembali mesin mobilnya dan berniat untuk pulang ke rumahnya. Namun dengan tiba-tiba ia mematikan kembali mesin mobilnya ketika melihat sebuah mobil hitam yang ia kenal terparkir tidak jauh dari apartemen Sania. Daniel juga dapat menebak pemilik mobil mewah itu masih berada di dalamnya.

Perasaan Daniel mendadak tidak enak. Ia kemudian memutuskan untuk turun dari mobilnya dan menyusul Sania menuju ruang apartemennya.

Dengan langkah-langkah cepat, Daniel berhasil menyusul Sania tepat ketika wanita itu membuka pintu apartemennya. Tanpa salam pembuka, Daniel mendahului Sania masuk ke dalam.

Mata Sania langsung membulat ketika Daniel melasat masuk ke dalam apartemennya dengan tiba-tiba dan tanpa salam pembuka. Rasa kantuknya mendadak hilang seketika.

“Apa yang kau lakukan?” bentak Sania pada Daniel yang mulai duduk di sofa ruang tamu tanpa permisi.

“Aku mendadak mengantuk. Aku tidak sanggup menyetir dalam keadaan mengantuk seperti ini.” jawab Daniel sambil sesekali memaksakan dirinya untuk menguap.

“Apa kau tidak punya etika bertamu ke rumah seorang wanita tengah malam seperti ini?” Sania mulai mendekati Daniel.

“Aku mengerti! Aku hanya perlu beristirahat beberapa jam disini, setelah itu aku akan pulang!” Daniel nampak tidak peduli dengan tatapan membunuh yang dilemparkan Sania padanya. Ia mulai membaringkan tubuhnya di sofa panjang itu dengan mengandalkan kedua telapak tangannya sebagai bantal kepalanya.

Sania hanya dapat menghela nafas panjang berkali-kali untuk menahan emosinya. Ia tidak mau membuang-buang energi hanya untuk berdebat dengan Daniel. Karena ia tau, pria itu tidak akan pernah mau mengalah darinya.

“Kuharap kau menepati janjimu!” ucap Sania akhirnya. Kemudian ia berjalan memasuki kamarnya. Lalu menutup pintu kamarnya rapat-rapat dengan tidak lupa menguncinya dari dalam.

Daniel segera bangkit berdiri ketika menyadari Sania tidak akan keluar lagi dari kamarnya. Ia memadamkan lampu dan melangkah menuju jendela yang memperlihatkan keadaan di bawah apartemen. Daniel masih bisa menemukan mobil hitam yang ia duga adalah milik Eric masih terparkir di tempat yang sama, tidak jauh dari apartemen ini.

Sampai beberapa jam kemudian, Daniel belum juga tertidur padahal waktu sudah menunjukkan dini hari. Aktifitasnya selama itu hanya berbolak balik antara sofa dan jendela untuk memastikan mobil hitam di bawah sana meninggalkan apartemen ini.

Harapan Daniel terwujud sekitar satu jam kemudian. Mobil hitam itu sudah melesat pergi sebelum ayam pagi berkokok membangunkan semua orang.

Sekarang Daniel benar-benar tidak sanggup untuk menyetir dalam keadaan kantuk yang teramat sangat. Ia kembali membaringkan tubuhnya di sofa dan mulai tertidup lelap dalam sekejap.

—<><>—

Daniel menguap berkali-kali. Pagi-pagi sekali ia terpaksa berangkat ke kantornya karena dibangunkan paksa oleh Sania. Ia menyetir dengan sangat hati-hati dalam keadaan yang masih sangat mengantuk menuju rumahnya. Itu pun hanya untuk mandi dan menyalin pakaiannya. Setelah itu ia kembali bergegas menuju kantornya, hingga jadilah ia seperti ini.

Selain rasa kantuk yang menguasainya, Daniel juga merasakan punggungnya hampir remuk karena tidur di atas sofa yang tidak nyaman.

Tiba-tiba bunyi dering telepon di meja mengejutkannya. Rasa kantuk Daniel berkurang, walau hanya sedikit namun cukup berguna untuk memberikan kekuatan menjawab panggilan itu.

Terdengar suara Niken dari sambungan telepon interkom yang memberitahu bahwa ada tamu untuk Daniel.

“Siapa?” tanya Daniel penasaran.

“Namanya Eric!”

Daniel membulatkan matanya. Kantuknya mendadak sirna hanya karena mendengar nama itu disebut. Mau apa lagi orang itu kemari? Tanyanya dalam hati.

“Persilahkan ia masuk!” Perintah Daniel akhirnya.

Tidak lama kemudian Eric mulai nampak dari balik pintu dan langsung menatap Daniel dengan senyuman sinis.

“Apa yang membuatmu datang kemari?” ucap Daniel tanpa berniat untuk basa basi.

Eric mendekati Daniel hingga duduk di sofa yang berada tak jauh di depan Daniel.

“Dari wajahmu, bisa kulihat kau sangat kelelahan seperti kurang istirahat.” tebak Eric dengan seringai licik di wajahnya. Ia mengabaikan pertanyaan Daniel tadi.

Daniel nampak tak sabar menunggu Eric bersuara untuk menyampaikan maksud dan tujuan dari kedatanganya. Hubungannya dengan sahabat lamanya itu menjadi tidak harmonis sejak Daniel mencurigai Eric yang sepertinya mengincar Sania darinya.

“Dan sepertinya kau terlihat sangat sibuk.” Eric melirik berkas-berkas pekerjaan Daniel yang menumpuk tinggi di salah satu sisi mejanya.

“Sepertinya kau menyadari telah mengganggu waktuku.” ucap Daniel lugas. Tatapan matanya menyudutkan Eric, berharap pria itu segera pergi apabila tidak ada hal penting yang ingin disampaikan.

“Aku hanya ingin bermain ke tempatmu ini. Sudah lama sekali aku tidak kesini. Banyak perubahan.” Eric menanggapi dengan santai tatapan Daniel yang seolah mengusirnya. Ia kembali melanjutkan kata-katanya setelah menyadari Daniel tidak merubah tatapan matanya yang berapi-api. “Apa Sania sering berkunjung ke sini?”

Sudah diduga! Daniel sudah mengira dari awal tujuan pria itu menemuinya pasti berkaitan dengan Sania. Sahabat lamanya itu terlalu sering menampakkan diri di hadapannya sejak mengetahui hubungannya dengan Sania.

“Bukankah sangat tidak wajar bila seorang pria yang sudah bertunangan sepertimu menanyakan tentang kekasih orang lain?” Daniel menyindir telak Eric hingga membuat seringai di wajah pria itu memudar, berganti dengan tatapan penuh emosi.

Eric nampak tidak suka Daniel mengingatkan kembali tentang statusnya yang sudah bertunangan dengan Laura. Ia tidak dapat menyembunyikan tatapan membunuhnya saat menatap Daniel.

Dering ponsel Daniel berbunyi nyaring, bersamaan dengan berakhirnya kegiatan saling tatap penuh amarah antara Daniel dan Eric. Daniel meraih ponselnya lalu bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan untuk menjawab panggilan itu.

Eric bangkit berdiri ketika Daniel telah menghilang di balik pintu keluar. Ia tidak berniat untuk beranjak pergi, namun justru tertarik pada sebuah frame yang terpajang di salah satu sudut meja kerja Daniel.

Ia semakin mendekat ke meja kerja Daniel, kemudian meraih frame foto itu. Hatinya memanas hanya dengan memandangi foto tersebut. Foto yang menampakkan kegembiraan Sania saat bermain di taman bermain beberapa waktu lalu. Bukan saat bersamanya, namun Daniel yang berada di foto itu bersama dengan Sania. Pria itu nampak begitu natural berusaha membekap Sania untuk menghentikan tawa riang itu.

Tawa di wajah Sania terlihat sangat lepas. Eric merasa sangat cemburu melihat foto itu terpajang di meja kerja Daniel. Ingin rasanya ia menghancurkan frame itu dan melenyapkan wajah Daniel di sana.

Dengan kasar, Eric membalikkan frame foto tersebut hingga tergeletak di atas meja dalam keadaan terbalik. Ia tidak sanggup melihat pemandangan itu lebih lama lagi. Hal itu hanya akan membuatnya semakin emosi.

Matanya segera ia alihkan ke lain arah untuk mengalihkan pikirannya yang mulai dikacaukan oleh amarah. Ia kembali tertarik melihat sebuah kartu nama yang terselip paling bawah di tumpukan berkar-berkas kerja Daniel.

Dengan penasaran, Eric meraih benda kecil itu dan mulai membaca sebuah nama dan beberapa kata lain yang tercantum disana.

Matanya membulat, ia terkejut bukan main ketika menyakini kartu nama itu adalah milik Sania. Terlebih setelah membaca sebuah kalimat yang membuatnya mengira-ngira hal yang sebenarnya terjadi, hal yang berkaitan dengan hubungan Sania dan Daniel yang sebenarnya.

‘Just call me and your problem will be solved!’

 

To be continued…

 

P.S: Makasih untuk dukungannya, nantikan part berikutnya 🙂

Iklan

2 comments on “[Berdebar] – [9] Konflik

  1. Daniel bener” uda mulai jatuh cinta sama sania.. hehe..
    Si eric itu muncul” trs deh, dia kyaknya emang pengen balikan lagi sama sania..
    wahhh, eric nemu kartu namanya sania? Apa yg terjadi selanjutnya ya? Ketauan kah sandiwara daniel-sania?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s