[Berdebar] – [10] Trapped

20160321_193012_Quote_Image

Main Cast: KIM WOO BIN as DANIEL RIGEL

BAE SUZY as SANIA OSCAR

OK TAECYEON as ERIC STEVANUS

IM YOONA as LAURA LARASATI

Sinopsis  |  Part 1  |  Part 2  |  Part 3  |  Part 4  |  Part 5  |  Part 6  |  Part 7  |  Part 8  |  Part 9

Part 10  |  Part 11  |  Part 12 [Proteksi]  |  Part 13 [Proteksi]  |  [End] Part 14 [Proteksi]

 

“Aku memang bodoh dan kau sudah gila!”

-Sania Oscar-

 

“Jangan tidur larut malam. Jangan lupa kunci pintu rapat-rapat dan jaga kesehatanmu!”

Sania tercengang mendengar semua kalimat Daniel padanya. Pria itu tidak henti-hentinya mengucapkan hal-hal yang membuatnya kebingungan. Tidak biasanya Daniel memperhatikannya seperti itu, apa lagi terkesan terlalu terang-terangan.

“Ada apa denganmu?” tanya Sania masih heran dengan sikap aneh Daniel ketika malam ini mengantarkannya masuk ke ruang apartemennya. “Aku sudah terbiasa melakukan semua itu tanpa harus kau ingatkan!”

Daniel mulai tersadar akan sikapnya sendiri. Ia sendiri pun tidak bisa memahami atas dasar apa ia harus melontarkan kata-kata seperti itu pada Sania.

Daniel akhirnya mengangguk paham. “Maaf karena merepotkanmu. Ibuku semakin sering memintamu untuk menemaninya hingga larut malam seperti ini.”

Sania merasa masih sangat asing dengan sikap aneh Daniel padanya. Namun tidak bisa ia pungkiri, hatinya hangat setiap kali mendengar kalimat-kalimat tadi yang seolah memperhatikan dirinya. Walaupun nada arogan Daniel masih jelas terasa, tapi Sania justru merasakan pria itu benar-benar mengkhawatirkannya.

Daniel kembali tersadar telah melontarkan kalimat yang tidak seharusnya ia ucapkan dengan begitu terang-terangan. Ekspresi wajah Sania di depannya telah menjawab semuanya. Ia telah salah berucap. Daniel mendadak gugup hanya karena tatapan Sania padanya yang seolah dapat membaca pikirannya.

“Hari sudah sangat larut, istirahatlah. Aku pulang dulu.” Daniel mulai berjalan menjauhi ruang apartemen Sania dengan sikap kaku. “Jangan lupa kunci pintu rapat-rapat!” Ia masih sempat berbalik untuk meneriaki kalimat itu. Setelah itu Daniel berjalan semakin cepat sebelum ia kembali melakukan tindakan yang membuat Sania bingung.

Sania memperhatikan kepergian Daniel tanpa suara. Ia kemudian menuruti perkataan Daniel untuk menutup pintu apartemennya rapat-rapat. Kalimat penuh peringatan dari Daniel itu terputar terus menerus di kepalanya seolah menjadi sesuatu yang tidak boleh ia lupakan.

Sania meletakkan tas dan juga ponselnya di atas meja lalu berniat untuk ke kamar mandi. Ponselnya berdering ketika ia belum melaksanakan niatnya itu. Sania berbalik untuk meraih ponselnya. Tertera sederet nomor yang tidak ia kenal nampak pada layar ponselnya.

Sania mengabaikan panggilan itu seperti biasa. Sejak ia menjalankan hubungan sandiwara dengan Daniel, ia jarang bahkan hampir tidak pernah mengambil job sampingan untuk mendapatkan uang. Bukan hanya karena uang yang ditransfer Daniel lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi akhir-akhir ini ia juga sangat sibuk karena lebih sering menemani ibu Daniel.

Sania kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi hingga bunyi dering ponselnya sudah tidak terdengar dari balik pintu kamar mandi.

Namun nampaknya sang penelepon tidak menyerah untuk terus menghubungi Sania. Ponsel Sania terus berdering bahkan hingga Sania sudah keluar dari kamar mandi.

Sania kembali meraih ponselnya yang baru saja berhenti berdering. 10 missed call dari nomor yang sama. Ia mulai berpikir mungkin orang yang meneleponnya memang sedang sangat membutuhkan bantuan mendesak.

Tidak lama kemudian ponselnya kembali berdering dan menunjukkan nomor yang sama. Sania segera menjawab panggilan itu. “Halo?”

“Halo, apa ini benar nomor Sania Oscar?” Suara seorang wanita muda yang panik mulai terdengar dari seberang telepon.

“Benar, aku Sania. Ada yang bisa kubantu?”

“Syukurlah akhirnya kau menjawab panggilanku. Aku sangat membutuhkan bantuanmu. Lampu di kamar dan ruang tamu apartemenku tiba-tiba saja mati.” nada suara wanita di seberang sana masih terdengar sangat panik.

“Mungkin saja sudah waktunya lampu-lampu itu untuk diganti!” jawab Sania berusaha menenangkan, namun ternyata tidak berhasil. Nada suara wanita di seberang sana terdengar masih sangat ketakutan.

“Aku sudah membeli lampu-lampu yang baru, tapi aku tidak tau bagaimana cara menggantinya. Aku baru saja pindah ke apartemen ini seorang diri. Aku tidak akan bisa tidur dalam keadaan gelap seperti ini. Aku sangat ketakutan.” Nada paniknya mendadak bertambah berkali-kali lipat.

“Baiklah, apa disana ada tangga?”

“Ya, ada!” jawab cepat wanita diseberang telepon.

“Beritahu posisimu, aku akan kesana sekarang.”

Sania segera mencatat nama apartemen dan nomor ruang yang disebutkan wanita itu. Ia mengangguk paham ketika menyadari lokasi apartemen itu tidak terlalu jauh dari apartemennya ini. Ia hanya perlu menaiki bus selama sepuluh menit untuk sampai kesana. Diliriknya jam tangan yang masih melingkar di tangannya. Jam sembilan malam. Masih ada bus terakhir yang beroperasi malam ini.

“Bolehkah beritahu aku siapa namamu?” tanya Sania lagi.

“Clarisa.”

—<><>—

Daniel melajukan mobilnya untuk kembali pulang ke rumah. Pikirannya masih terus saja memikirkan sikap anehnya tadi saat mengantar Sania pulang.

Tiba-tiba ia teringat kembali kata-kata yang diucapkan sekertarisnya, Niken dulu ketika ia menanyakan tentang bagaimana rasanya jatuh cinta.

 

Kau akan merasakan detak jantungmu berdetak sangat cepat ketika kau berada di dekat orang yang kau suka.

 

Daniel memegang dadanya sendiri dan mulai merasakan detak jantungnya yang masih berdetak sangat hebat, bahkan ketika ia hanya memikirkan wanita itu—Sania. Detak jantung ini sangat berbeda ketika menaiki wahana histeria kemarin. Ia menikmati debaran yang seperti ini. Debaran yang membuatnya bahagia hanya dengan memikirkan Sania.

Daniel sedang jatuh cinta. Perasaan yang baru pertama kali dirasakannya. Daniel mulai berani menerima kenyataan itu. Ia telah jatuh cinta pada Sania. Ia mengenal kata cinta melalui wanita itu.

Daniel terus mengembangkan senyumnya ketika menikmati perasaannya yang berbunga-bunga saat ini. Kemudian matanya tertuju pada sebuah kotak berukuran sedang yang tadi sempat diberikan ibunya untuk Sania. Kotak itu berisi vitamin, gingseng dan juga obat-obat yang berguna untuk menjaga kesehatan. Sania tanpa sengaja lupa membawa kotak itu dan meninggalkannya begitu saja di dalam mobil.

Tanpa pikir panjang, Daniel segera memutar balik mobilnya untuk kembali melesat menuju apartemen Sania.

—<><>—

Sania sudah tiba di apartemen yang disebutkan Clarisa tadi. Ia beruntung karena langsung mendapatkan tumpangan bus terakhir sesaat setelah ia sampai di halte. Ia akan memikirkan nanti bagaimana caranya pulang kembali ke apartemennya karena pasti sudah tidak ada bus yang beroperasi.

Kini Sania berjalan menuju ruang apartemen benomor 1210. Ia telah keluar dari lift di lantai 12. Matanya bergerak lincah mengamati setiap nomor yang tertera di setiap pintu yang ada di sekitarnya.

Perasaan aneh mulai menghinggapinya. Sania sangat familiar dengan apartemen mewah ini. ia juga tidak merasa asing melewati jalan menuju ke ruangan yang ia cari, seolah ia pernah ke tempat ini beberapa kali.

Sania sudah berdiri di depan pintu ruang apartemen bernomor 1210. Tubuhnya mematung ketika berusaha menepis pemikirannya yang mengatakan bahwa ia benar-benar pernah ke tempat ini, sudah sangat lama. Dan pintu yang berada tepat di hadapannya juga masih tidak berubah seperti dulu, hanya saja Sania ragu ruangan itu sama dengan ruangan yang beberapa kali pernah dikunjunginya dulu. Semua pintu di apartemen itu hampir semuanya sama. Kemungkinan yang sangat kecil bila pintu itu benar-benar adalah pintu ruang apartemen yang dikunjunginya dulu.

Dengan tangan sedikit bergetar, Sania mulai mengetuk pelan pintu itu. Ia berdiri mematung di tempatnya, menunggu penghuninya membukakan pintu untuknya. Jantungnya mulai bekerja dengan cepat. Ia sangat takut, takut kalau saja ia bertemu dengan orang yang pernah ia kunjungi beberapa kail di apartemen ini.

Pintu itu perlahan terbuka, Sania menantinya dengan perasaan was was. Sedetik kemudian ia mulai dapat menghembuskan nafas lega ketika melihat seorang wanita muda yang cantik dari balik pintu itu. Senyumnya mengembang begitu saja saking leganya.

“Apa kau Sania?” tanya wanita itu.

Sania mengangguk cepat.

“Aku Clarisa,” wanita itu mengajak Sania berjabat tangan yang kemudian disambut Sania dengan senang hati. “Masuklah!” Clarisa membuka lebar pintu apartemennya untuk memudahkan Sania masuk ke dalam.

Sania melangkah masuk sambil memperhatikan suasana di dalam apartemen itu yang sangat gelap. Hanya lampu dapur yang menyala, itu pun jaraknya cukup jauh dari ruang tamu. Satu buah lampu dari dapur itu tidak cukup mampu menerangi apartemen mewah yang dikunjunginya ini.

“Dimana tangganya?” Sania berbalik menoleh ke arah pintu. Betapa terkejutnya ia ketika tidak dapat menemukan Clarisa disana. Ia justru melihat seorang pria yang baru saja menutup rapat pintu itu lalu menguncinya dari dalam.

Sania membuka matanya lebar-lebar, berusaha menatap wajah pria itu dengan pencahayaan seadanya. Ia mengenali betul sosok itu, sosok yang ia duga dari awal. Apartemen ini memang benar milik Eric, seseorang yang pernah beberapa kali dikunjunginya di tempat ini, di ruang yang sama, nomor yang sama. Hanya saja Sania terlambat menyadarinya. Ia terlambat untuk menghindar.

Tangan Eric mengarah pada sakelar yang berada di dinding tak jauh dari pintu. Seketika semua lampu disana menyala terang, hingga menampakkan sosok Eric dengan seiringai liciknya, juga menangkap ekspresi terkejut sekaligus marah di wajah Sania.

Sania merasa telah dipermainkan. Lampu-lampu itu ternyata tidak rusak sama sekali. Eric sengaja memancingnya untuk ke tempat ini menggunakan jasa seorang wanita.

“Sudah kuduga kau akan datang!” ucap Eric masih dengan seringai liciknya. “Hatimu masih sama seperti dulu, sangat baik hati. Kuharap hatimu juga masih setia menyimpan namaku disana.” lanjutnya sambil melangkah mendekati Sania.

Sania mundur bersamaan dengan langkah Eric yang bergerak mendekatinya.

“Sepertinya kau harus merubah sedikit sikap polosmu itu. Apa kau tidak merasa curiga saat seseorang yang tinggal di apartemen ini meminta bantuanmu hanya untuk mengganti bola lampu?” Eric semakin mendekat. “Seharusnya kau berpikir tidak mungkin apartemen semewah ini tidak memiliki pekerja untuk memperbaiki segala kerusakan disini.”

Bodoh! Sania terus saja merutuki dirinya sendiri dalam hati. Ia merasa benar-benar bodoh karena berpikiran terlalu sempit.

“Ada apa lagi? Bukankah urusan kita sudah selesai?” Sania memberanikan diri bersuara meski jantungnya kini bekerja tak menentu. Ia sangat takut apa yang akan dilakukan Eric padanya.

“Belum selesai!” Eric menjawab dengan cepat. “Dan tak akan pernah selesai!” lanjutnya. Ia masih berjalan perlahan mendekati Sania yang semakin mundur ke ruang tengah.

“Apa maksudmu? Aku merasa sudah tidak punya urusan apapun lagi denganmu!” Sania masih berusaha untuk mengambil jarak dengan Eric. Namun sialnya, kini ia sudah tidak memiliki lagi ruang untuk ia melangkah mundur. Kakinya sudah membentur dinding, tubuhnya juga sudah ia tempelkan rapat-rapat ke dinding, berusaha menambah jaraknya dengan pria itu walau hanya satu senti.

“Kau mungkin tidak merasa, tapi aku masih ada urusan denganmu!”

“Tentang apa lagi?” Sania tidak tahan untuk tidak berteriak.

“Tentang hubungan kita.” jawab Eric dengan nada tenang namun mampu membulatkan mata Sania.

“Hubungan kita?” Sania mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan ucapan pria itu. “Hubungan kita sudah berakhir lama. Kau yang meninggalkanku. Dan kini kau juga sudah bertunangan dengan wanita lain. Mengapa kau bersikap seperti ini padaku?” Sania hampir menangis. Kehadiran Eric selalu membuat pikiran dan perasaannya kacau.

Rahang Eric mengeras. Ia tidak terima dengan begitu banyak kenyataan yang dilemparkan Sania padanya. Ia menghabiskan jaraknya dengan Sania dalam satu langkah lebar.

“Aku bisa membatalkan pertunanganku bila kau menginginkannya!” Eric nampak emosi. Ia selalu seperti itu bila ada orang yang mengingatkan tentang status pertunangannya. Terlebih bila kata-kata itu keluar dari mulut Sania.

“Apa kau sudah gila?” Sania memekik. “Apa yang ingin kau lakukan?” tanyanya kemudian ketika melihat Eric tiba-tiba merentangkan kedua tangannya dan meletakkannya tepat di samping kiri dan kanan tubuh Sania.

“Menurutmu?” bisik Eric tepat di depan wajah Sania yang kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.

Bisa Sania rasakan hembusan nafas hangat pria itu menyapu permukaan wajahnya. Sania segera mendorong tubuh Eric untuk menjauh darinya dengan kekuatan penuh. Namun kekuatannya memang kalah jauh bila dibandingkan dengan Eric. Pria itu tetap berada di posisinya tanpa banyak terpengaruh akibat dorongan Sania.

“Jangan coba macam-macam padaku!” Sania masih mencoba memperingatkan ketika usaha kedua tangannya untuk menjauhkan tubuh Eric gagal total. Semakin ia memaksa mendorong tubuh Eric untuk menjauh, pria itu justru semakin mendekati wajahnya ke wajah Sania yang kini pucat pasi.

“Aku tau kau merindukanku!” Eric kembali berbisik. Matanya menatap lekat sepasang mata hitam milik Sania.

PLAKK!!

Sania sudah tidak tahan lagi dengan semua sikap Eric yang menurutnya sudah sangat keterlaluan. Ia berharap sebuah tamparan keras segera membawa pria itu ke alam nyata.

Eric mundur beberapa langkah sambil memegangi pipi kirinya. Sedetik kemudian ia menoleh menatap Sania dengan tatapan penuh api.

Sania mulai dapat sedikit bernafas lega karena jaraknya dengan Eric sedikit bertambah, namun ia mulai bergidik ngeri menyaksikan sorot mata Eric yang penuh dengan amarah. Pria itu benar-benar sangat mengerikan saat ini.

Eric menatap Sania penuh amarah. Ia sangat marah karena wanita itu berani menamparnya. Memang tidak terlalu keras, namun sekaligus menampar hatinya dengan sangat keras. Ia sangat sakit hati atas perlakuan Sania padanya.

Suara dering ponsel Sania seketika menyelamatkannya dari tatapan menakutkan Eric. Ia segera meraih ponsel di saku blazer yang ia kenakan, lalu dengan segera mengangkat panggilan itu ketika membaca nama Daniel di layar ponselnya. Sania merasa Daniel harus tau keberadaannya kini. Ia berharap Daniel segera datang untuk menolongnya.

“Jangan diangkat!” Eric terlambat mencegahnya. Kini sambungan telepon telah terhubung.

Sania buru-buru menempelkan ponsel itu ke telinganya, “Halo?”

Hanya kata itu yang berhasil terlontar sebelum Eric meraih ponsel dari genggaman Sania dan melemparkannya dengan keras ke lantai hingga membuat benda itu hancur berkeping-keping.

 

To be continued…

 

P.S: Makasih untuk komentarnya. Cerita ini akan berakhir 4 part lagi, tentunya 3 part terakhir akan diprotect. Bagi yang ingin membaca hingga akhir diwajibkan meninggalkan jejak di setiap part.. 🙂

Iklan

One comment on “[Berdebar] – [10] Trapped

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s