[Berdebar] – [11] Impact

berdebar_part 11_pit sansi

Main Cast: KIM WOO BIN as DANIEL RIGEL

BAE SUZY as SANIA OSCAR

OK TAECYEON as ERIC STEVANUS

IM YOONA as LAURA LARASATI

Sinopsis  |  Part 1  |  Part 2  |  Part 3  |  Part 4  |  Part 5  |  Part 6  |  Part 7  |  Part 8  |  Part 9

Part 10  |  Part 11  |  Part 12 [Proteksi]  |  Part 13 [Proteksi]  |  [End] Part 14 [Proteksi]

“Hubungan kita tidak akan pernah berakhir.”

-Daniel Rigel-

 

“Halo, Sania?” Daniel berkali-kali mencoba memanggil nama itu ketika sambungan telepon hanya terhubung beberapa detik dan kemudian terputus begitu saja. Ia hanya bisa mendengar suara panik Sania sesaat setelah sebelumnya seperti mendengar suara seorang pria yang dikenalnya berteriak memerintahkan Sania untuk tidak mengangkat panggilan darinya.

Eric, Daniel yakin suara bentakan itu adalah suara Eric.

Daniel mencoba menelepon Sania berkali-kali namun ponsel wanita itu tidak aktif. Ia juga tidak berhasil menemukan Sania di apartemennya. Daniel merasa harus segera melakukan sesuatu untuk menemukan Sania. Hanya satu tempat yang dipikirkan Daniel saat ini ketika menyadari Eric tengah bersama Sania saat ini.

Daniel segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang dimaksudnya.

—<><>—

“Sudah kubilang jangan angkat telepon itu!” Eric membentak Sania sekali lagi. Sorot matanya yang menatap Sania nampak sedang tidak main-main. Emosi telah menguasainya penuh.

“Apa sebenarnya maumu?” Sania gemetar ketika mengeluarkan suaranya. Ia sangat ketakutan dengan sikap Eric yang tidak dikenalinya itu.

“Kau tanya apa mauku?” Eric kembali mendekati Sania dan menyentuh pelan wajah Sania yang putih pucat seperti kapas. “Kembalilah padaku!”

“Kau sudah gila!” Sania berteriak keras, lalu menepis tangan Eric di wajahnya.

“Ya, kau benar! Aku memang sudah gila!” Eric mengangguk kuat-kuat. Matanya memerah karena amarah. “Aku akan semakin gila bila membiarkanmu direbut oleh Daniel. Kau tidak mencintainya, bukan?”

Sania hanya dapat ternganga tak percaya. “Apa maksudmu?”

“Aku tau kau tidak mencintainya. Kau hanya berpura-pura menjadi kekasihnya karena uang, bukan?”

Sania semakin terbelalak tak percaya. Bagaimana bisa Eric menebak seperti itu?

“Bila kau hanya memerlukan uang, aku bisa memberikannya untukmu. Berapa pun yang kau minta!” Eric menatap Sania dengan sungguh-sungguh. “Kumohon kembalilah padaku!”

“Tidak!” Sania berteriak dengan penuh tekanan. “Aku tidak akan bisa kembali padamu!” ucapnya penuh tekad.

Tanpa sadar, ucapan Sania tadi semakin menyulut emosi Eric hingga pada titik yang paling tinggi. “Kenapa? Apa kau mencintainya?” bentak Eric penuh emosi. Ia mencengkram salah satu tangan Sania hingga wanita itu meringis kesakitan.

“Eric, lepaskan aku!” Sania berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan tangannya dari cengkraman pria itu.

“Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau menjadi milikku! Bagaimanapun caranya!” ucapan Eric bagai sebuah ancaman yang sangat mengerikan di telinga Sania.

Sania panik setengah mati. Ia tidak tau apa yang akan dilakukan Eric padanya sekarang. Ia hanya bisa berharap Daniel akan segera datang menyelamatkannya, walau ia tidak yakin hal itu akan terjadi.

Dengan kalap, Eric mendekatkan wajahnya ke wajah Sania. Niatnya untuk mencium wanita itu gagal setelah Sania memalingkan wajahnya secara tiba-tiba hingga ciuman Eric hanya berhasil mendarat di rambut panjang wanita itu.

“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” Sania terus meronta sekuat tenaga. Ia tidak terima dilecehkan seperti itu. Hingga akhirnya gerakannya terpaksa ia hentikan ketika mendengar suara gedoran keras pintu apartemen.

Sania dan Eric menoleh bersamaan ke arah pintu. Gedoran itu terdengar semakin keras ketika cukup lama tidak juga ada tanda-tanda untuk dibuka dari dalam, disusul suara seorang pria yang berteriak nyaring yang Sania yakini adalah suara Daniel.

Kehadiran Daniel seketika membuat perasaan Sania sedikit lega. Cengkraman Eric di tangannya perlahan mengendor dan terlepas. Pria di depannya itu nampak makin emosi dengan situasi ini.

Eric melirik Sania dengan sangat marah. Ia dapat menangkap raut kelegaan di wajah wanita itu setelah mendengar suara Daniel di balik pintu.

“Eric, cepat buka pintunya! Aku tau kau di dalam.” Suara teriakan Daniel makin terdengar sangat jelas. “Aku akan mendobrak pintu ini bila kau tidak juga membukanya.”

Eric akhirnya berbalik dan berjalan menuju pintu itu. Ia membuka perlahan pintu itu sambil memasang ekspresi ketidaksukaannya terhadap sikap Daniel yang tidak sopan.

Daniel menghentikan seketika gerakannya yang berniat untuk mendobrak pintu itu. Bersyukur Eric telah membukanya tepat waktu. Matanya segera menjelajah ke dalam ruang apartemen Eric, namun sayang tidak banyak yang berhasil ditangkap matanya karena pria di depannya hanya membuka pintu itu sedikit, hanya cukup untuk menampakkan wajahnya di sela-sela pintu itu.

“Apa kau tidak bisa bertamu lebih sopan?” Eric nampak meradang karena emosi.

“Aku tau Sania ada di dalam!” Daniel mencoba untuk tetap bersabar.

Eric mengangguk. “Kau benar!” Sorot matanya masih penuh amarah.

“Sedang apa kalian?” Mata Daniel menajam mencoba mencari petunjuk di dalam melalui sela-sela pintu yang terbuka, baru kemudian menuding Eric.

“Tentu saja kami bersenang-senang.” Eric memperlihatkan seringai liciknya. Ia cukup puas melihat ekspresi marah di wajah Daniel.

Sania yang sedari tadi hanya diam, mulai bergerak memaksa Eric untuk membuka lebar pintu itu.

“Aku ingin keluar dari tempat ini!” ucap Sania geram ketika berhasil membuka pintu itu lebar-lebar. Nafasnya terus memburu karena emosi. Tatapannya beralih menatap Daniel dengan penampilan yang sangat kacau. Kemejanya berantakan, matanya memerah karena menahan amarah.

Daniel memperhatikan Sania dengan sangat intens. Seketika ia merasa lega yang luar biasa ketika menyadari wanita itu dalam keadaan baik-baik saja. Namun perasaan kecewa juga menghampirinya. Ia kecewa karena Sania masih menyempatkan diri bertemu dengan Eric tanpa sepengetahuannya, entah karena kesengajaan atau kebetulan semata.

“Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Daniel, kali ini matanya menuding Sania.

Sania mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Daniel yang terkesan menyudutkannya.

“Sudah kubilang, kami sedang bersenang-senang!” Eric menyela sambil tertawa licik. Ia mencoba merangkul Sania, namun ditolak mentah-mentah oleh wanita itu.

“Aku tidak bertanya padamu!” Daniel memperingati Eric untuk berhenti bicara.

“Kami sedang melepas rindu. Sudah tiga tahun aku tidak bertemu dengan Sania.” Bukannya diam, Eric justru makin senang bisa menyulut emosi Daniel.

Berhasil, Daniel terpancing oleh perkataannya. Pria itu kini menatapnya dengan tatapan seolah ingin membunuh.

“Sania adalah mantan kekasihku!” Eric melemparkan kenyataan telak tepat di hadapan Daniel.

Daniel makin tak dapat berkata-kata. Matanya kemudian beralih menatap mata Sania yang seolah ingin menjelaskan sesuatu. Dengan diamnya Sania, Daniel dapat menyimpulkan bahwa perkataan Eric tadi adalah benar. Padahal selama ini Sania selalu bersikeras menutupi hal ini darinya. Dan hari ini kecurigaan Daniel akhirnya terkuak perlahan demi perlahan.

“Dan kami berencana untuk memperbaiki hubungan kami kembali!”

Daniel dan Sania menoleh kompak ke arah Eric yang baru saja mengucapkan kalimat yang tidak masuk akal.

“Apa yang kau katakan! Aku tidak akan pernah mau kembali padamu!” Sania mengumpat kesal kepada Eric.

“Aku tau kau sedang beracting di depan Daniel, sayang!” Eric kembali mencoba untuk merangkul Sania, namun lagi-lagi ditolak. “Baiklah, aku tau kau tidak suka aku memperlakukanmu dengan mesra di hadapan Daniel!” Kini ia tersenyum penuh arti pada Sania yang justru semakin mengerutkan keningnya.

Daniel melemparkan tatapannya pada Sania. Ia terpancing oleh semua perkataan Eric. Rasa cemburu bercampur amarah telah sepenuhnya menguasai dirinya.

“Tenang saja, kau akan tetap mendapatkan uang dari Daniel karena sandiwara ini!”

Deg!

Daniel terkejut bukan main ketika Eric menyebut kata ‘sandiwara’. Apakah Eric sudah mengetahui hal yang sebenarnya? Daniel berusaha untuk tidak mempercayainya. Mungkin saja ia telah salah mendengar.

“Aku tau hubungan kalian hanya sandiwara!” Eric menatap telak Daniel. Seringainya terlihat sangat mengerikan.

Daniel masih sangat terkejut menyadari kenyataan ini. Ia yakin tidak ada yang tau mengenai hubungan sandiwaranya selain dirinya dan Sania. Bila ia merasa tidak pernah membocorkan hal ini kepada orang lain, kemungkinannya hanya tinggal satu.

Mata Daniel beralih menatap Sania dengan tatapan menuduh. Ia merasa sangat kecewa bila wanita itu benar-benar menbocorkannya.

Sania merasa terganggu dengan tatapan Daniel yang terlalu terang-terangan menyudutkannya. Ia tidak percaya pria itu dengan mudahnya terpancing oleh semua perkataan Eric.

“Kau tidak punya hak untuk mempengaruhi keputusan Sania untuk kembali padaku!”

Daniel kembali menatap Eric yang baru saja berbicara padanya. “Aku punya hak mengatur Sania, selam aku masih menjadi kekasihnya!”

“Kekasih sandiwara!” Eric mencoba membenarkan. “Dan akan kupastikan itu tidak akan berlangsung lama!” Ancamnya penuh tekad.

Emosi Daniel makin meluap. Ia sangat marah dengan semua perkataan Eric yang seolah meremehkannya.

“Aku tidak menyangka kau masih berpikir untuk merebut Sania dariku. Apa kau tidak memikirkan perasaan tunanganmu, Laura?” Nada suara Daniel terdengar sangat menyindir.

Daniel berhasil menyulut emosi Eric. Eric beberapa kali menghembuskan nafas berat lalu kemudian tertawa sinis. “Aku tidak percaya kau bisa memikirkan perasaan seorang wanita!” Eric memperkeras suara tawanya yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Daniel. “Seorang Daniel memperdulikan perasaan seorang wanita? Benar-benar lucu!”

Daniel makin emosi mendengar tawa nyaring Eric yang terkesan sangat menghinanya.

“Aku bahkan tidak yakin kau pernah merasakan jatuh cinta! Aku tidak pernah tau kau mempunyai kekasih selain kekasih sandiwaramu, Sania!” Eric memojokkan Daniel dengan tatapannya.

Daniel berusaha sekuat tenaga untuk mengontrol emosinya. Matanya kembali beralih menatap Sania yang terlihat sangat kebingungan, tidak tau harus bersikap seperti apa.

Dengan gerakan tegas, Daniel meraih tangan Sania dan menariknya hingga wanita itu berpindah posisi ke sebelahnya. Sania dan Eric kompak manatap Daniel dengan kening berkerut.

“Aku tidak akan semudah itu melepaskan Sania!” ucap Daniel penuh tekanan. Matanya yang menatap Eric penuh dengan tekad yang bulat.

Deg!

Perkataan Daniel entah mengapa membuat jantung Sania berdebar. Ia cukup tersentuh dengan ucapan pria itu. Namun di lain sisi, ia khawatir Eric tidak akan tinggal diam menghadapi tantangan dari Daniel.

Setelah puas menatap Eric yang nampak tidak terima, Daniel segera melangkahkan kakiknya menjauh dari ruang apartemen Eric dengan masih menarik tangan Sania. Langkahnya tegas dan cepat, sehingga Sania nampak agak kesulitan mengimbangi gerakan Daniel.

—<><>—

Suasana sangat hening di dalam mobil selama perjalanan menuju apartemen Sania. Baik Daniel maupun Sania tengah sibuk pada pikiran masing-masing.

Kesunyian selama di dalam mobil nampak membuat tidak nyaman keduanya. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk memulai pembicaraan hingga mobil Daniel berhenti tepat di depan apartemen Sania.

Sania segera turun dari mobil tanpa suara. Ia nampak enggan berkata-kata dalam kondisi tegang seperti saat ini.

Tanpa diduga oleh Sania, Daniel juga ikut turun dari mobil dan mengikuti langkahnya dari belakang.

Sania menoleh ketika Daniel tidak juga menghentikan langkah kakinya ketika telah sampai di depan pintu ruang apartemennya.

“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Sania, masih tak mengerti dengan sikap Daniel.

“Kita harus bicara!” ucap Daniel berusaha tenang, walau nafasnya terdengar sangat berantakan sedari tadi.

“Tentang apa?”

“Tentang semuanya!” Daniel menjawab cepat. “Tapi tidak disini, ini sudah terlalu larut malam!” Daniel segera merebut kunci dari tangan Sania, lalu membuka pintu apartemen Sania seolah apartemen itu adalah miliknya. Daniel membuka lebar pintu itu dan memberikan kode pada Sania untuk segera masuk kedalam.

Sania tercengang di tempatnya berdiri, ia tersenyum sinis ketika menemukan kembali sikap arogan dari Daniel. Ia akhirnya menurut untuk masuk ke dalam. Energinya sudah banyak terbuang malam ini dan ia merasa sangat kelelahan.

Daniel menutup rapat pintu itu lalu menyusul langkah Sania menuju ke ruang tengah.

“Aku lelah!” Sania nampak tidak berminat berdebat malam ini. Namun ia harus siap, karena Daniel telah membuka topik dengan tiba-tiba.

“Kau membohongiku!” ucap Daniel dingin.

Sania berbalik menghadap Daniel, lalu menatap pria itu dengan kening berkerut.

“Kau berbohong padaku. Kau bilang baru mengenal Eric di acara pertunangannya. Ternyata kau bahkan adalah mantan kekasihnya!” Nada suara Daniel semakin lama semakin meninggi.

Sania hanya menanggapinya dengan helaan nafas panjang tanpa bisa berkata apa-apa. Ia memang telah membohongi Daniel mengenai hal itu. Tapi semua itu semata-mata untuk melupakan Eric dari hidupnya. Jika memang bisa, Sania justru mau menghapus pria itu dari masa lalunya.

“Dan kau bahkan merencanakan untuk memperbaiki hubunganmu dengan Eric.”

“Tidak!” Sania menyela cepat. “Aku sangat ingin melupakannya!”

“Benarkah?” Daniel menatap tak percaya. “Kau bahkan membocorkan hubungan sandiwara kita kepadanya!” Tatapan Daniel semakin menyudutkan Sania.

“Aku tidak pernah mengatakan hal itu pada siapa pun, termasuk kepada Eric!” Sania bersikeras.

“Kau masih tidak mau mengaku? Lalu apa alasanmu ketika aku menemukanmu sedang berduaan di apartemennya?” Daniel mulai tidak dapat mengontrol emosinya yang meluap. Matanya memerah saking emosinya.

“Semua tidak seperti yang kau pikirkan! Aku dijebak. Eric menjebakku dengan meminta bantuan seorang wanita. Tiba-tiba saja wanita itu meneleponku dan meminta bantuan untuk mengganti bola lampunya yang mati.” Sania menjelaskan dengan nafas yang tersengal-sengal. Namun Daniel menanggapinya dengan senyuman sinis.

“Kau pikir jawabanmu itu masuk akal?” tanya Daniel makin emosi.

“Mengapa kau tidak percaya? Aku hanya ingin membantu. Suara wanita itu terdengar sangat panik!” Sania hampir menangis saat berusaha meyakinkan Daniel.

“Kau masih melakukan pekerjaan menipumu?”

“Aku tidak menipu! Aku memang tulus ingin menolong wanita itu!”

Daniel berdecak sinis sambil mengalihkan pandangannya sesaat ke lain arah baru kemudian kembali menatap Sania dengan tajam. “Kau masih mengambil pekerjaan lain ketika melakukan hubungan sandiwara denganku? Apa uang yang kuberikan kepadamu selama ini masih kurang?” Daniel menatap Sania dengan tatapan meremehkan.

Sania tersinggung ditatap seperti itu. Ia merasa sangat terhina dengan ucapan Daniel yang mengaitkan dirinya dengan uang.

“Mulai sekarang kau tidak usah mengambil pekerjaan sampinganmu itu. Aku bisa menambahkan uang bayaran untukmu lebih banyak lagi!” Daniel masih juga tidak menghilangkan tatapan meremehkannya itu pada Sania. Emosi telah membutakan pikirannya.

Sania berusaha mengatur nafasnya yang memburu karena amarah. Ia kesal mendengar perkataan Daniel yang tidak henti-henti mengaitkannya dengan uang, seolah ia adalah wanita yang mata duitan.

“Apa kau sudah selesai bicara?” Sania memberanikan diri untuk bersuara. Tatapannya masih berapi-api, menahan amarahnya yang sudah memuncak. “Kau boleh keluar jika sudah selesai bicara!” lanjutnya penuh dengan tekanan.

Daniel tidak bergeming dengan pengusiran terang-terangan dari Sania. “Mulai sekarang aku akan tinggal di tempat ini! Bersamamu!”

Pernyataan Daniel barusan hampir membuat Sania pingsan di tempat, saking terkejutnya. “Apa?”

“Aku akan lebih leluasa mengawasimu bila tinggal disini. Aku tidak akan membiarkanmu menemui Eric!” Lagi-lagi Daniel mengeluarkan sikap arogansinya. Nadanya penuh tekanan seolah tidak ada satu orang pun yang bisa mengubah keputusannya.

“Apa hakmu mengambil keputusan untuk tinggal disini? Aku tidak akan pernah mengijinkannya!” Sania sudah muak dengan semua sikap mau menang sendiri yang selalu ditunjukkan Daniel padanya.

“Kau boleh pilih, aku yang tinggal disini atau kau yang harus tinggal di rumahku!” Tatapan mata Daniel menunjukkan bahwa ia tidak sedang bercanda.

Sania seperti mendengar suara petir bergemuruh ketika Daniel mengatakan kalimat itu. Hal yang bahkan tidak pernah dibayangkannya.

“Kau tidak bisa memilih, bukan?” Daniel bersuara ketika cukup lama menunggu Sania yang hanya tercengang di tempatnya tanpa suara. “Kalau begitu, aku yang akan tinggal disini!”

“Kau selalu mengambil keputusan sepihak tanpa meminta pendapatku! Apa kau tidak memikirkan apa yang akan dikatakan orang-orang sekitar apabila menyadari kita tinggal bersama tanpa ikatan?”

“Kalau begitu sebaiknya kita menikah saja!”

“Apa?” Sania makin terkejut bukan main mendengar kalimat Daniel yang semakin lama semakin membuatnya seperti terkena serangan jantung mendadak. Ia tidak menyangka Daniel dapat melontarkan kalimat itu dengan mudahnya, tanpa berpikir lebih panjang.

Daniel menunduk dalam-dalam ketika mulai menyadari kesalahannya. Lagi-lagi ia telah salah bicara saking emosinya. Ia hampir tidak pernah dibantah dalam setiap mengambil keputusan. Jadi, bantahan dan penolakan Sania yang bertubi-tubi padanya membuat Daniel melontarkan sesuatu begitu saja tanpa ia pikirkan kembali.

“Maafkan aku,” ucap Daniel nampak menyesal. Ia mengangkat kepalanya, kemudian memberanikan diri menatap Sania yang masih nampak sangat terkejut. “Sepertinya aku kelelahan. Aku akan bermalam disini malam ini. Besok aku akan memikirkan kembali tentang hal ini.” Daniel memijat keningnya yang berkerut, kemudian melangkah masuk ke dalam satu-satunya kamar yang ada di dalam apartemen Sania.

“Hei, mau kemana kau?” Sania berteriak ke arah Daniel, lalu buru-buru menyusul langkah pria itu ketika Daniel tidak juga menjawab pertanyaannya tadi.

Daniel menghempaskan dirinya ke sisi ranjang milik Sania sambil menghembuskan nafas panjang.

“Apa yang kau lakukan di kamarku. Aku tidak pernah mengijinkanmu masuk ke tempat ini!” Sania mulai gerah dengan tingkah Daniel yang seenaknya.

“Aku sudah mengatakan padamu akan bermalam disini hari ini. Kau tidak lihat, aku sedang beristirahat.” Daniel nampak tenang. Ia memejamkan matanya rapat-rapat untuk mulai beristirahat.

“Siapa yang mengatakan kau boleh tidur di kamarku? Bila kau memang ingin menginap disini, kau hanya boleh tidur di sofa depan!”

Daniel membuka matanya dan langsung menatap Sania. “Kau menyuruhku untuk tidur di sofa?”

“Lalu, apa kau memintaku yang harus tidur disana?” Nada suara Sania semakin tinggi.

“Tidak,” Daniel menggeleng. “Kau boleh ikut tidur disini jika kau mau. Ranjang ini cukup luas untuk ditiduri dua orang!” Daniel berkata dengan sedikit seringai di wajahnya. Tangannya ia rentangkan bebas di sisi ranjang yang kosong di sebelahnya.

Sania menatap ngeri sikap Daniel itu. Ia kemudian mendekati Daniel, bukan untuk menuruti tawaran dari pria itu, melainkan untuk meraih satu bantal di atas ranjang untuk dibawanya ke luar kamar. Sania tidak akan sudi mengambil tawaran mengerikan itu.

Daniel memandangi sikap menghindar Sania dengan seulas senyum. Ia sendiri heran dari mana ia belajar kata-kata menggoda seperti itu.

Untuk waktu yang cukup lama, Daniel tidak benar-benar tertidur. Matanya masih terjaga, walau lampu kamar sudah ia padamkan. Sementara suasana di luar kamar juga sudah sangat sepi dan tenang, sepertinya Sania sudah mulai terlelap tidur.

Daniel bangkit dari posisi berbaringnya. Kakinya melangkah turun dari ranjang lalu bergerak ke luar dari kamar. Ia melihat Sania tertidur pulas sekali di sofa panjang yang berada di ruang tamu.

Daniel pernah satu kali berbaring dan tertidur di sofa itu. Rasanya benar-benar tidak nyaman. Keesokan harinya ia mendapati seluruh badannya terasa sangat pegal. Hal itulah yang dipikirkan Daniel saat ini. Pasti Sania tidak nyaman tidur di sofa. Wanita itu akan merasakan seluruh tubuhnya pegal-pegal keesokan harinya.

Daniel tidak tega membiarkan Sania tidur di sofa, sementara dirinya sendiri tidur di ranjang yang cukup empuk. Dengan gerakan hati-hati, Daniel mengangkat tubuh Sania dan memindahkannya ke ranjang yang berada di dalam kamar.

Daniel menyelimuti Sania dengan penuh perasaan. Entah ada angin apa, ia tidak melawan dorongan hatinya untuk mengecup singkat kening Sania.

Ia kini telah bertukar posisi tidur dengan Sania. Daniel membaringkah tubuhnya di atas sofa dan mulai memejamkan matanya untuk beristirahat. Kali ini ia benar-benar tertidur.

—<><>—

Daniel terbangun ketika merasakan sinar matahari pagi menyengatnya tanpa ampun dari sela-sela tirai yang terbuka. Ia membuka matanya dan mulai mengubah posisinya hingga terduduk di sofa. Bisa ia rasakan kini badannya terasa sangat pegal.

Daniel melirik jam tangan yang masih melingkar di tangannya sejak kemarin. Jam 8 pagi. Ia kesiangan untuk pergi ke kantornya. Namun ia tidak mengambil pusing soal itu. Ia tidak begitu bersemangat untuk bekerja hari ini.

Ia memperhatikan keadaan di dalam apartemen Sania. Sepi. Bahkan pintu kamar Sania juga masih tertutup rapat. Apa Sania masih tertidur? Ia pasti sangat kelelahan, pikir Daniel dalam hati.

Daniel bangkit berdiri dan mulai mendekati kamar Sania. Dengan gerakan hati-hati, ia memutar handle pintu itu dan mengintip suasana di dalam kamar. Kosong. Daniel membuka lebar-lebar pintu itu dan memindai setiap sudut kamar dengan matanya. Ia tidak berhasil menemukan Sania di ruangan itu. Bahkan ranjang Sania terlihat sangat rapih seperti tidak pernah ditiduri sebelumnya.

Daniel mencari Sania di dapur dan kamar mandi, namun tidak juga berhasil menemukan wanita itu di setiap sudut apartemen ini. Ia mulai menduga mungkin Sania sedang keluar untuk membeli makanan atau sejenisnya.

Daniel masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajah dan membersihkan dirinya. Ia memutuskan untuk menunggu Sania kembali, baru kemudian pulang ke rumahnya.

Sania belum juga kembali ketika Daniel telah selesai membersihkan dirinya. Ia menunggu Sania dengan hanya duduk-duduk di sofa sambil memperhatikan seluk beluk apartemen sederhana milik Sania ini. Saking sederhananya, apartemen ini hanya memiliki satu buah kamar tidur, satu buah kamar mandi, satu buah dapur serta satu buah ruang tamu yang semuanya berukuran tidak terlalu besar.

Penantian Daniel akhirnya berbuah. Sania menampakkan dirinya dari balik pintu masuk beberapa saat kemudian. Tatapan mereka seketika bertemu untuk waktu yang cukup lama. Penampilan Sania terlihat sangat rapih dan bersih. Daniel sendiri tidak mampu menebak jam berapa wanita itu bangun tadi.

“Kau dari mana?” tanya Daniel yang masih menatap Sania sambil sesekali melirik amplop coklat tebal yang berada di genggaman wanita itu.

Sania bergerak mendekati Daniel dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ia meletakkan begitu saja amplop coklat itu tepat di atas meja yang berada di hadapan Daniel.

“Apa itu?” tanya Daniel heran. Ekspresi wajahnya mendadak dingin karena terpancing sikap Sania yang sangat misterius.

“Aku kembalikan semua uang yang kau berikan padaku! Aku sama sekali belum menggunakannya!”

“Apa maksudmu?” Daniel masih nampak tak mengerti. “Aku tidak meminta kembali uang yang kuberikan padamu!”

“Aku ingin hubungan sandiwara kita berakhir!” ucap Sania penuh keyakinan. Sikap keterlaluan Daniel semalam membuatnya mengambil keputusan ini. Ia tidak akan tahan terus direndahkan oleh Daniel hanya karena uang. Tanpa kehadiran Daniel pun ia masih sanggup menghidupi dirinya sendiri walau kerja serabutan.

Daniel memandangi amplop coklat itu dengan penuh emosi. Ia marah karena Sania mengembalikan uang pemberiannya, terlebih kata-kata wanita itu yang menginginkan hubungan sandiwara mereka berakhir. Suatu pukulan yang teramat berat yang dirasakan Daniel saat ini. Ia bahkan tidak pernah membayangkan hubungannya dengan Sania akan berakhir secepat ini, bahkan ketika ia tidak menginginkannya.

Daniel bangkit berdiri. Ia meraih amplop itu lalu berjalan memutari meja hingga berdiri tepat di hadapan Sania. Ia meraih salah satu tangan Sania dan mengembalikan amplop itu pada wanita itu.

“Aku tidak akan pernah mengambil uang yang telah kuberikan padamu!” Mata Daniel memerah. Sulit baginya menyadari Sania menginginkan sandiwara di antara mereka berakhir secepat ini.

“Kenapa? Aku sama sekali tidak membutuhkan uangmu.” Sania menyodorkan kembali amplop itu kepada Daniel, namun Daniel menolaknya.

“Cukup!”

“Aku masih bisa menghidupi diriku sendiri tanpa uang darimu!” Sania kembali melakukan usaha yang sama untuk mengembalikan amplop itu kepada Daniel, namun lagi-lagi tangan pria itu menahan tangannya untuk tetap menggenggam amplop itu.

“Hentikan!” Nada suara Daniel sedikit meninggi dari sebelumnya. Tatapan matanya menghujam mata Sania tanpa ampun.

“Aku tidak suka kau atur semaumu. Aku tidak suka dengan sikap aroganmu. Aku ingin terbebas darimu. Aku ingin hubungan sandiwara kita berakhir!” Sania berteriak tanpa ia sadari.

“Kubilang hentikan!” kali ini Daniel membentak, berusaha membuat Sania menghentikan kalimat-kalimat yang menyakitkan. Namun wanita itu sangat keras kepala. Ia terus bersuara hingga semakin menyulut api kemarahan dalam diri Daniel.

“Aku ingin kau per—”

Dengan gerakan cepat, Daniel menarik tubuh Sania hingga mendekatinya, lalu kemudian membungkam bibir wanita itu dengan bibirnya. Ia perlahan menyapu bibir Sania dengan ciumannya.

Sania terlalu terkejut untuk menghindar. Daniel menciumnya dalam waktu yang cukup lama. Amplop yang berada di genggamannya mendadak jatuh karena seluruh tubuh Sania seketika lemas karena ciuman dadakan itu.

Sania masih sangat terkejut ketika Daniel telah melepaskan ciuman di bibirnya. Tubuh Sania mendadak kaku, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan Daniel padanya. Ia tidak menyangka pria itu berani melakukan itu padanya.

“Kuperingatkan padamu jangan coba-coba memancing emosiku!” ucap Daniel dengan nafas yang memburu. Matanya berapi-api ketika mengucapkan kalimat amcaman itu. “Hubungan kita tidak akan pernah berakhir!” Daniel segera melangkah keluar dari apartemen setelah mengucapkan kalimat itu. Ia sadar telah mengatakan kalimat yang salah. Kalimat yang seharusnya ia lontarkan adalah ‘hubungan sandiwara kita belum saatnya berakhir!’ Namun hatinya terus mendesak untuk mengatakan kalimat yang baru saja ia lontarkan tadi.

Sania menegang di tempatnya berdiri. Ia tidak menyangka akan menerima sikap arogan Daniel setelah ia berusaha untuk mengakhiri hubungan sandiwaranya dengan pria itu.

Pria itu sudah benar-benar keterlaluan, batin Sania penuh amarah.

—<><>—

Hari ini Daniel pulang larut malam lagi, seperti biasa. Pikirannya kacau. Ia nampak tidak bersemangat menjalani hari-harinya. Sejak kejadian ciuman itu, ia sudah tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Sania. Sudah lebih dari seminggu, wanita itu mendadak menjaga jarak darinya. Ponselnya tidak aktif dan ia tidak pernah ada di tempat setiap kali Daniel ke apartemennya. Entah sengaja atau tidak, Daniel sempat menduga sebenarnya Sania ada di dalam, namun sengaja menghindarinya dan tidak mau menemuinya.

Daniel mulai menyadari semua sikap dan perkataannya sudah sangat keterlaluan. Ia terlalu bersikap seenaknya sendiri tanpa pernah mempertimbangkan keinginan Sania. Seberapa besar penyesalan yang dirasakan Daniel sekarang, nyatanya ia sudah terlalu terlambat untuk memperbaiki semua. Hatinya benar-benar sakit menyadari kini Sania sangat membencinya.

Ia tidak tega pada ibunya yang terlihat sangat lesu belakangan ini. Tidak hanya dirinya, ibunya pun kesulitan menghubungi Sania. Ibunya selalu menanyakan keadaan Sania pada Daniel. Ibunya merasa kesepian sejak Sania menghilangkan jejaknya.

Daniel melangkah memasuki area ruang tamu rumahnya. Ia melihat ibunya tertidur di sofa dengan posisi duduk. Wajah wanita itu terlihat sangat sedih dan kelelahan.

Daniel menghela nafas berat untuk kesekian kalinya. Perlahan ia berjalan mendekat hingga duduk di samping ibunya dengan sangat hati-hati. Ia tidak tega membangunkan ibunya. Wanita itu memang kurang beristirahat akhir-akhir ini. Ia selalu menunggu Daniel pulang hanya untuk menanyakan kabar terbaru tentang Sania.

Pandangan Daniel beralih menatap selembar foto yang berada di genggaman tangan ibunya. Dengan gerakan perlahan dan hati-hati, Daniel mengambil foto itu, fotonya bersama Sania di taman bermain. Hati Daniel tersentuh menyadari ibunya telah sangat menyayangi Sania. Sania memang wanita yang mudah untuk dicintai. Semua orang menyukainya, terlebih Daniel sendiri.

Daniel menatap foto-foto lain yang terhampar di meja dan juga beberapa diantaranya sudah terpajang rapih di sudut-sudut ruang tamu atau bahkan di dinding rumahnya. Semuanya adalah foto dirinya bersama Sania.

Daniel kini menatap ibunya prihatin. Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana terpukulnya wanita itu ketika mengetahui hubungannya dengan Sania harus berakhir cepat atau lambat. Dan sepertinya hal itu akan terwujud sebentar lagi. Ia bingung bagaimana harus menghadapi ibunya nanti bila semuanya benar-benar terjadi. Ia hanya takut membuat kondisi ibunya menjadi buruk.

Daniel terkesiap ketika merasa getaran singkat di saku jasnya yang berasal dari ponselnya. Ia langsung meraih ponsel itu dan membaca sebuah pesan singkat yang baru saja masuk. Pesan dari sahabatnya, Fendy.

 

Apa kau sudah dengar kabar bahwa Eric membatalkan pertunangannya?

 

Sebuah kalimat pertanyaan singkat, namun berdampak luar biasa bagi Daniel. Daniel membeku di tempatnya, berusaha tak percaya dengan kabar yang baru diketahuinya dari sahabat lamanya itu.

Ia kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan ke sudut ruangan untuk segera memastikan kabar itu. Ia menempelkan ponsel ke telinganya setelah menghubungkan sambungan telepon dengan kontak Fendy.

Nada sambung telepon mulai terdengar beberapa kali, hingga akhirnya orang yang ditelepon Daniel menjawab panggilannya.

“Halo?” Suara Fendy terdengar di seberang telepon.

“Dari mana kau mendapatkan kabar itu?” tanya Daniel tidak berniat basa basi.

“Kau terkejut, bukan? Sama sepertiku. Belum banyak orang yang tau. Aku sudah memastikannya pada Eric.”

“Dia bilang apa?” Daniel langsung menyela perkataan Fendy sebelum pria di seberang sana berhasil menyelesaikan kalimatnya.

“Eric membenarkannya. Yang membuatku semakin terkejut adalah nada suaranya yang terdengar sangat tenang ketika membicarakan mengenai pembatalan pertunangannya. Bahkan saat aku meneleponnya tadi, aku seperti dapat mendengar sesekali ia tertawa ringan.”

Eric makin membeku mendengar kabar yang mengejutkan itu.

“Dan yang aku dengar, kabar pembatalan pertunangan Eric dan Laura diakibatkan adanya orang ketiga.”

Mata Daniel membulat. Ia memasang telinganya tajam-tajam untuk menangkap kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan Fendy padanya.

“Kabarnya Eric kembali merajut hubungan dengan mantan kekasihnya!”

Deg!

Daniel serasa tertampar keras ketika mendengar kalimat itu. Ia sebisa mungkin tidak ingin mengaitkannya dengan Sania, namun sangat sulit. Kenyataan ini benar-benar memukulnya telak.

“Man-tan ke-ka-sihnya?” tanya Daniel terbata

“Iya, mantan kekasih Eric tiga tahun lalu.”

Terjawab sudah. Mungkin Fendy belum tau, tapi Daniel yakin mantan kekasih Eric yang dimaksud Fendy tadi adalah Sania. Eric pernah mengatakan padanya bahwa Sania adalah mantan kekasihnya tiga tahun lalu.

Perlahan Daniel menoleh ke arah ibunya yang masih tertidur pulas di sofa. Ia semakin takut kondisi ibunya akan memburuk bila mengetahui kenyataan ini. Ia tidak ingin membuat ibunya kecewa, walau cepat atau lambat wanita itu akan mengetahui hal yang sebenarnya.

 

To be continued…

 

P.S: Sampai jumpa di 3 part terakhir cerita ini yang akan diprotect.

Untuk permintaan password bisa melalui email pitsansi@gmail.com dan sertakan user name kamu yang kamu gunakan saat komentar.

Note: Sebelum meminta password, mohon pastikan jejak kamu ada di setiap part cerita ini (baik itu komen ataupun sekedar like).

Makasih 😀

Iklan

10 comments on “[Berdebar] – [11] Impact

  1. Part ini lumayan panjang daripada part sebelumnya. Hehe.
    Makin seru dan tegang bacanya,ikutan emosi juga liat tingkahnya eric. Mana skrng dia batalin pertunangannya. Itu seriusan dia balik sama sania??
    Trs hubungan sama daniel gmn donk??

  2. halo aku readers baru, ceritanya bagus, aku suka karakter-karakternya tapi laura jarang muncul dicerita ini, jalan ceritanya susah ditebak

  3. Di part ini sukses dibuat emosi sm eric yg nyebelinnya minta dihajar, daniel yg bossynya yaampun wkwk aku blh minta password u/ kelanjutannya kah? Penasarann bgt hehe thx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s