[Berdebar] – [6] Mengejar Kembali Cinta Masa Lalu

berdebar_part 6_pitsansi

Main Cast: KIM WOO BIN as DANIEL RIGEL

BAE SUZY as SANIA OSCAR

OK TAECYEON as ERIC STEVANUS

IM YOONA as LAURA LARASATI

Sinopsis  |  Part 1  |  Part 2  |  Part 3  |  Part 4  |  Part 5  |  Part 6  |  Part 7  |  Part 8  |  Part 9

Part 10  |  Part 11  |  Part 12 [Proteksi]  |  Part 13 [Proteksi]  |  [End] Part 14 [Proteksi]

“Apa yang ingin kau sampaikan?” Sania tidak sabar menunggu Eric bicara ketika mereka berdua telah duduk berhadapan di bangku kafe. Sejak tadi pria di hadapannya itu hanya menatapnya lama tanpa bersuara sedikit pun.

Eric tersadar, ia menegakkan tubuhnya lalu kemudian berdehem pelan. Tatapannya ia alihkan pada secangkir kopi yang digenggamnya sedari tadi, namun tidak lama. Matanya selalu tertarik untuk menatap wajah cantik Sania. “Apa kau tidak merindukanku?” Tanyanya dengan tatapan lebih intens. Eric berusaha membaca setiap ekspresi di wajah Sania.

Sania menghela nafas kesal. “Apa kau pikir pantas bertanya seperti itu padaku?” Sania nampak sangat emosi dengan sikap Eric yang seperti itu. “Bila tak ada yang ingin kau sampaikan lagi, aku pergi dulu!” Sania berniat bangkit dari duduknya, namun digagalkan dengan suara Eric yang cukup nyaring.

“Baiklah! Maafkan aku!” Ucap Eric akhirnya. Ia merasa mungkin hanya dirinya yang merasa sangat merindukan Sania. “Maafkan aku, aku tidak seharusnya meninggalkanmu pada waktu itu. Aku menyesal, Sania!” Air muka Eric terlihat penuh penyesalan.

“Aku tidak mau membahas masa lalu kita. Kita sudah punya masa depan masing-masing!” Sania berusaha untuk bersikap tegas. Memang ini yang harus ia lakukan. Tidak ada gunanya ia terpuruk dengan masa lalunya yang kelam. Ia juga akan mengubur dalam sisa-sisa perasaannya untuk mantan kekasihnya itu, sesulit apa pun itu.

“Masa depan katamu?” Eric merasakan sesak di dadanya ketika mengingat status Sania sebagai kekasih Daniel. Ia sangat cemburu ketika mendengar dari mulut Sania bahwa wanita itu telah memiliki masa depannya sendiri.

“Kau sudah bertunangan dan akan segera menikah. Itulah masa depanmu!” Sania menjelaskan maksudnya dengan lebih lugas. Ia berharap Eric menyesal karena berharap Sania masih merindukannya.

“Lalu bagaimana dengan masa depanmu?” Nafas Eric mulai memburu ketika baru saja menerima lemparan kenyataan dari mulut Sania.

“Aku juga akan menemukan masa depanku!”

“Bersama Daniel?” Eric menyahut cepat.

Sania terdiam untuk beberapa saat. Ia menangkap ekspresi ketidaksukaan di wajah Eric. “Bisa jadi!” ucap Sania telak.

Eric merasa dadanya terbakar. Ia sungguh tidak rela bila Sania berdampingan dengan pria lain. “Bagaimana bila aku membatalkan pertunanganku dengan Laura? Apa masih ada harapan untuk mengubah masa depan kita?” Eric masih dikuasai emosi sepenuhnya.

Sania nampak sangat terkejut dengan ucapan Eric. Ia tidak menyangka pria itu bisa punya pemikiran seperti itu.

“Apa kau sudah gila?” Sania tidak tahan lagi untuk tidak berteriak.

Sedetik kemudian Eric sadar telah mengatakan sesuatu yang salah. Tidak seharusnya ia bersikap gegabah dan terlalu emosi. Sikapnya itu justru akan membuat Sania menjauh darinya.

Eric menundukkan kepalanya dan meremas bagian belakang kepalanya dengan frustasi. Setelah mulai dapat mengendalikan diri, Eric mengangkat kepalanya untuk menatap Sania yang nampak masih terkejut.

“Aku hanya bercanda!” Eric mencoba tersenyum sealami mungkin. Raut wajahnya sudah nampak tenang.

Sania semakin dibuat bingung dengan perubahan air muka Eric yang tiba-tiba.

“Aku harus pergi!” Sania mulai bangkit dari kursinya ketika tidak dapat mencerna dengan baik maksud dari perkataan dan juga sikap aneh pria di depannya itu. “Penuhi janjimu untuk tidak mengusik kehidupanku setelah ini!” Ucapnya penuh dengan peringatan.

“Maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa menepatinya!” Eric masih berusaha bersikap setenang mungkin.

“Apa?”

“Aku hanya ingin kita bisa menjadi teman. Tolong jangan menghindariku ketika kita bertemu lagi!”

Eric benar-benar membuatnya pusing sekaligus emosi. Ia merasa percuma membuang waktu hanya untuk membicarakan semua omong kosong ini. Terlebih, ia sangat emosi karena pria itu tidak mau menepati janjinya untuk menjauh dari kehidupannya.

Sania melangkah dengan langkah-langkah cepat menuju pintu keluar kafe, meninggalkan Eric yang hanya menatap kepergiannya tanpa suara.

—<><>—

Daniel berjalan menuju ruang kerjanya dengan tidak nyaman. Tatapan-tatapan serta bisikan-bisikan dari para pegawainya sepanjang jalan membuatnya risih dan sangat mengganggu. Padahal suasana sekitar tidak seaneh ini ketika ia meninggalkan kantor pagi tadi untuk keperluan meeting. Hingga hampir sampai di depan pintu ruang kerjanya, ia masih belum bisa menemukan jawaban atas semua kejadian aneh yang dilihatnya.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Daniel akhirnya bertanya pada beberapa orang pegawai wanita yang sedang berkumpul di dekat pintu ruang kerjanya.

Bukannya menjawab, orang-orang yang ditanya malah berhamburan pergi menuju meja kerja mereka masing-masing, menyisakan sekertarisnya, Niken yang tetap bertahan di tempatnya yang baru saja dijadikan tempat untuk bergosip.

“Apa yang terjadi?” Daniel masih mencari tau hal yang sebenarnya terjadi.

“Tuan, ada tamu untuk Anda.” Ucap Niken sambil mengarahkan tangannya ke ruang kerja Daniel.

Daniel mengerutkan keningnya sambil mengikuti arahan tangan Niken, “Siapa?”

“Beliau—” belum tuntas Niken berbicara, Daniel telah pergi begitu saja dari hadapannya dan mulai mendekati ruang kerjanya itu.

Daniel membuka pintu ruang kerjanya dengan penuh rasa penasaran. Ia melihat Sania berdiri tidak jauh dari pintu yang baru saja dibukanya. Wanita itu nampak sedang serius memindai tatapannya ke segala penjuru ruangan dengan ekspresi terkagum-kagum dengan interior ruang kerja Daniel.

“Sedang apa kau disini?” Suara Daniel membentak. Ia masih berdiri di depan pintu, belum berniat untuk melangkah masuk lebih dalam.

Sania menoleh ke arah pintu masuk dan cukup terkejut, bukan karena mendapati Daniel tiba-tiba muncul dari balik pintu, tetapi karena bentakan pria itu.

Sania tidak menjawab pertanyaan Daniel tadi. Mulutnya terus saja komat kamit tidak jelas dengan ekspresi yang sulit dibaca oleh Daniel.

Daniel mengerutkan keningnya, merasa tidak mengerti apa yang diucapkan Sania. “Apa yang kau katakan?”

“Daniel, akhirnya kau datang juga!” Suara seorang wanita yang familiar di telinga Daniel tiba-tiba saja terdengar dari sudut ruangan.

Daniel terkejut ketika mendapati ibunya sedang duduk santai di sofa panjang yang terletak di sudut ruang kerja Daniel.

“Ibu dan Sania telah menunggumu cukup lama disini!” Ibu Daniel mulai bangkit berdiri dan berjalan ke tengah ruangan.

Daniel bergerak masuk, kemudian menutup pintu ruang kerjanya. Matanya ia alihkan kembali menatap Sania yang kini menatapnya dengan tatapan menyudutkan.

“Mengapa Ibu bisa kemari?” Tanya Daniel sambil bergerak mendekati ibunya.

“Ibu bosan di rumah, lalu mengajak Sania untuk berkunjung ke kantormu untuk memberikan kejutan. Apa kau senang?” Ibu Daniel selalu tersenyum sepanjang hari. Bukan hanya hari ini, tapi sejak hari dimana Daniel mengenalkan Sania padanya sebagai pasangan kekasih.

Daniel kembali melemparkan pandangannya kepada Sania yang baru saja mengangkat bahunya. “Tentu saja aku senang Ibu datang bersama Sania,” jawab Daniel sealami mungkin.

“Ibu sudah menduganya!” Ibu Daniel memandangi putranya dan Sania bergantian sambil tetap tersenyum cerah. “Oh iya, tadi selama menunggumu kembali Ibu telah mengenalkan Sania pada seluruh pegawai-pegawaimu.”

“Apa?” Daniel terkejut bukan main. Matanya kembali menatap Sania yang lagi-lagi hanya bisa mengangkat bahunya.

“Hal yang sangat menggembirakan ini tentu harus diketahui oleh semua orang, termasuk pegawai-pegawaimu!”

Daniel masih cukup tercengang mencerna setiap perkataan ibunya itu. Ia mulai dapat menemukan jawaban atas keanehan sikap yang ditunjukkan para pegawainya tadi. Ia yakin semua orang di gedung ini sedang membicarakan dirinya yang terkenal tidak pernah mendekati wanita, tapi kini justru sudah memiliki kekasih.

“Omong-omong, Ibu tidak bisa menemukan fotomu bersama Sania di ruang kerjamu ini. Apa kau tidak memajangnya?” Tanya ibu Daniel sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruang.

“Ibu kan tau sendiri aku bukan tipe orang yang suka memajang foto-foto seperti itu.”

“Itu sangat penting. Kau harus memajang foto Sania di meja kerjamu agar kau lebih bersemangat dalam bekerja!” Ibu Daniel tetap pada pendiriannya.

Daniel menghela nafas berat. Ia hanya tidak ingin membahas sesuatu yang dirasanya tidak penting itu. Namun berbeda dengannya, ibunya benar-benar menginginkan Daniel untuk memajang foto Sania di meja kerjanya.

“Apa kau punya foto berdua dengan Sania? Mungkin di dompetmu? Biar ibu bantu memajangnya di frame!”

Daniel dan Sania kompak saling melempar pandangan bingung tak tau harus menjawab apa. Dipikiran Daniel, apa wajar bila sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan selama setahun tidak memiliki foto mereka berdua?

“Jangan katakan kalian belum pernah berfoto bersama?” Tebak ibu Daniel dari tatapan aneh Daniel dan juga Sania. “Ini tidak bisa dibiarkan.” Ibu Daniel mulai memikirkan sebuah cara agar Daniel dan Sania dapat berfoto dengan ekspresi kebahagiaan. Tidak mungkin bila ia memaksa keduanya untuk berfoto saat ini juga, ekspresi kedua orang itu akan terlihat sangat terpaksa.

“Daniel, sekarang kau ajak Sania untuk pergi ke taman bermain. Kurasa kalian harus bersenang-senang berdua!”

“Apa?” Suara terkejut Daniel dan Sania terdengar sangat kompak.

“Ibu, tapi masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan hari ini!” Daniel berusaha menolak dengan alasan yang cukup masuk akal baginya, tapi tidak bagi ibunya.

“Pekerjaan tidak akan pernah ada habisnya. Kau masih bisa mengerjakannya besok. Kalian harus sering-sering bersama agar semakin dalam cinta kalian satu sama lain. Apa kau mau Sania sampai direbut pria lain kalau kau tidak bisa menyempatkan waktu mengajaknya jalan-jalan?”

“Tapi—” bantahan Daniel tidak akan pernah mempan di hadapan ibunya. Ibunya itu akan terus menerus berbicara sampai Daniel mengiyakan keinginannya.

“Tidak ada alasan lagi, sekarang kalian pergilah!” Ibu Daniel kini mendorong pelan punggung putranya untuk bergerak mendekati Sania yang sejak tadi berdiri di dekat pintu. “Jangan lupa untuk membawa foto kalian berdua yang paling bahagia!”

Daniel dan Sania terpaksa menurut. Apa lagi ketika ibu Daniel membisikkan sesuatu kepada mereka. “Selamat bersenang-senang. Semoga kalian semakin saling mencintai!”

—<><>—

Daniel mengekor di belakang Sania dengan langkah malas memasuki area taman bermain. Pria itu nampak risih karena dirinya kini menjadi pusat perhatian orang-orang disana. Bagaimana tidak, ia berpakaian terlalu formal hanya untuk berpergian ke taman bermain. Jas hitamnya sudah ia lepas dan ia tinggalkan di dalam mobil, namun tidak juga menyurutkan orang-orang disana untuk menjadikannya tontonan gratis.

Berbeda dengan Daniel, Sania nampak antusias sejak menginjakkan kakinya di area taman bermain. Ia sudah tidak dapat mengingat pasti kapan terakhir ia ke tempat ini. Mungkin saat umurnya sepuluh atau sebelas tahun. Tempat ini sudah begitu banyak perubahan. Orang-orang yang berada disana sangat banyak dan wahana-wahana bermain juga sudah semakin bervariasi.

Sania menoleh ke belakang ketika menyadari ia tidak sendiri datang ke taman bermain. Ia melihat Daniel menundukkan kepalanya sambil berjalan tanpa minat ke arahnya.

“Apa yang kau lakukan? Percepat sedikit langkahmu!” Sania meneriaki Daniel. Ia nampak tidak sabar untuk mencoba satu per satu wahana bermain di tempat ini.

Daniel mengangkat kepalanya dan berdecak kesal. Ia bahkan tidak berniat sama sekali untuk mencoba salah satu pun wahana bermain. Hal itu terlalu kekanak-kanakkan, pikirnya.

“Wahana apa yang harus kita mainkan pertama?” Sania bertanya penuh antusias pada Daniel yang baru saja berhenti tepat di depannya.

“Kau saja, aku tidak mau!” Jawab Daniel tak bersemangat.

“Kenapa?”

“Sangat kekanak-kanakkan!”

“Siapa bilang? Bagiku bermain disini sama sekali tidak kekanak-kanakkan! Apa kau tidak lihat, banyak juga orang-orang tua yang bermain-main di tempat ini.” Sania mengedarkan pandangannya memperhatikan orang-orang disekitarnya.

“Kau saja! Aku tidak berminat bergabung dengan orang-orang yang kurang kerjaan seperti kalian!” Daniel melanjutkan langkahnya melewati Sania menuju bangku teduh yang berada di bawah pohon yang rindang.

“Hei, apa kau lupa ibu meminta kita untuk berfoto bersama?” Sania sedikit berteriak tanpa berniat menyusul langkah Daniel.

“Masalah itu kau tenang saja, aku bisa meminta bantuan orang lain untuk mengedit foto kita.” Ucap Daniel cuek tanpa menoleh sama sekali.

Sania hanya diam di tempat untuk beberapa saat. Ia hanya bisa menggeleng-geleng pelan menghadapi sikap Daniel. Pria itu selalu saja menganggap mudah segala sesuatu.

Sania berusaha untuk tidak mengambil pusing sikap menyebalkan Daniel. Senyumnya kembali mengembang ketika melihat berbagai wahana bermain yang sangat menggiurkan di matanya. Teriakan-teriakan histeris orang-orang yang tengah mencoba wahana menantang pun semakin menarik Sania untuk mencoba wahana bermain itu.

Daniel memperhatikan kepergian Sania dengan senyuman sinis. Benar-benar kekanak-kanakkan!, batinnya.

Daniel mulai menyadarkan tubuhnya di sandaran bangku panjang yang ia duduki. Tidak lama kemudian beberapa anak berumur sekitar belasan tahun berkumpul tidak jauh di depan Daniel. Anak-anak itu berbisik-bisik sambil melirik ke arah Daniel. Mereka semua berbisik sambil terkekeh-kekeh seperti sedang menertawakan sesuatu.

Daniel terus memperhatikan tingkah sekumpulan anak-anak berpakaian mencolok itu. Ia menyadari penampilannya memang tidak pantas untuk menginjakkan kaki ke taman bermain ini, tapi tatapan anak-anak itu lebih dari itu. Orang-orang lain yang terus saja memperhatikannya sejak memasuki area taman bermain tidak pernah selama itu menatapnya. Bahkan sampai mengeluarkan ponsel mereka untuk mengambil beberapa gambar dirinya?

What? Apa-apaan anak nakal itu? Daniel hilang kesabaran. “Hei, apa yang kalian lakukan?” Bentak Daniel mulai emosi.

Sekumpulan anak-anak itu segera melarikan diri sejauh-jauhnya dari hadapan Daniel sebelum pria itu mengejarnya dan menghukum mereka.

Daniel berdecak kesal. Moodnya memang sudah tidak baik bahkan sebelum ke tampat ini. Ia kembali memperhatikan orang-orang di sekitarnya hingga ia menyadari sesuatu yang membuat anak-anak tadi tertawa-tawa menatapnya dan mencoba mengambil gambar dirinya. Daniel tengah duduk di bangku panjang tepat di sebelah maskot yang merupakan ciri khas taman bermain tersebut. Boneka maskot itu terlalu dekat dengannya, hingga sangat menarik perhatian karena pemandangannya terlalu kontras. Boneka maskot itu terlihat sangat ceria dengan pakaian yang penuh dengan warna. Sedangkan Daniel, bukan hanya salah kostum, tetapi juga terkesan jauh dari rasa gembira karena tidak ada senyum sama sekali di wajahnya.

Dengan gerakan perlahan, Daniel menggeser posisi duduknya hingga ke sisi lain bangku itu.

—<><>—

Sania baru saja turun dari wahana yang entah sudah keberapa dinaikinya. Wanita itu terlihata sangat ceria dan penuh semangat, berbeda dengan orang-orang disekitarnya yang kebanyakan menampakkan wajah pucat setelah turun dari wahana menantang yang memacu adrenalin.

Sania mengedarkan pandangannya ke sekitar, seperti sedang mencari-cari wahana yang akan ia mainkan berikutnya. Matanya berbinar-binar ketika melihat wahana halilintar. Tanpa pikir panjang, ia segera melesat menuju wahana itu untuk ikut mengantri dengan pengunjung yang lain. Untung saja antrian tidak begitu panjang, hingga ia hanya perlu menunggu putaran selanjutnya untuk dapat menaiki wahana tersebut.

“Sepertinya sangat menyenangkan bisa bermain-main di tempat seperti ini!”

Sania menoleh ke sumber suara yang tepat berada di sebelahnya. Ia melihat seorang pria dengan kemeja putih dan berpenampilan formal berdiri tegap di sebelahnya. Wajah pria itu nampak penuh senyum sambil menatap wahana halilintar di depannya.

Dia lagi! Sania mengeluh dalam hati.

“Sedang apa kau disini?” Tanya Sania pada Eric yang kini membalas tatapannya, masih dengan senyum di wajahnya.

“Tentu saja untuk bermain,” jawab Eric santai. “Memangnya apa yang sedang kau lakukan disini bila bukan untuk bermain?”

Sania tidak menjawab. Suasana hatinya mendadak buruk ketika melihat Eric disana.

“Apa kau bersama dengan Daniel?” Tanya Daniel lagi. “Kemana dia?” Ia mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar, namun kembali menatap Sania ketika tidak dapat menemukan orang yang ia cari di sekitarnya.

Sania menghela nafas berat untuk kesekian kalinya, ia tengah berusaha menahan hatinya agar tidak menjadi semakin buruk. Tanpa kata-kata Sania berbalik untuk meninggalkan area wahana itu. Ia jadi tidak berminat mencoba wahana itu ketika kehadiran Eric.

“Sania, kau mau kemana? Permainan akan segera dimulai!” Eric mencegah kepergian Sania.

Sania berhenti, bukan karena cegahan dari Eric, tapi karena orang-orang yang baru saja turun dari wahana mendahuluinya untuk keluar dari area itu.

Petugas wahana mempersilahkan para pengunjung selanjutnya untuk segera naik ke wahana karena putaran berikutnya akan segera dimulai. Eric mengambil kesempatan ini untuk menarik tangan Sania menuju wahana tersebut walau wanita itu menolak berkali-kali.

Sania sudah tidak bisa lari lagi. Eric telah berhasil membuatnya terduduk di bangku terdepan wahana tersebut dengan menurunkan bantalan pengaman tepat di tubuhnya. Aba-aba dari petugas yang memberitahu bahwa sebentar lagi permainan akan dimulai, membuat Sania mengurungkan niatnya untuk turun dari wahana. Sementar Eric mulai tersenyum puas di sebelah Sania.

 

To be continued…

P.S: Baru pertengahan cerita nih. Aku akan protect 3 part terakhir. Cuma readers yg aktif kasih komentar yg bisa baca sampai akhir :D/

Iklan

3 comments on “[Berdebar] – [6] Mengejar Kembali Cinta Masa Lalu

  1. Yeayyy, akhirnya di post juga 😀
    Eric mulai galau ya itu? Hehehe
    Wahh, keliatannya ibunya daniel emang benar” suka sama sania.
    Itu eric kok bisa kebetulan bgt ada di tempat bermain? Kira” klo daniel tau sania lagi sama eric, daniel cemburu gk ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s