[Berdebar] – [5] N.Y.A.W.A

eric stevanus_berdebar part 5

Main Cast: KIM WOO BIN as DANIEL RIGEL

BAE SUZY as SANIA OSCAR

OK TAECYEON as ERIC STEVANUS

IM YOONA as LAURA LARASATI

Sinopsis  |  Part 1  |  Part 2  |  Part 3  |  Part 4  |  Part 5  |  Part 6  |  Part 7  |  Part 8  |  Part 9

Part 10  |  Part 11  |  Part 12 [Proteksi]  |  Part 13 [Proteksi]  |  [End] Part 14 [Proteksi]

“Ketika seseorang dari masa lalumu datang disaat kau sudah berstatus milik orang lain, itulah saatnya perasaanmu akan benar-benar diuji.”

-Eric Stevanus-

 

Daniel tidak henti-hentinya memaki dirinya sendiri ketika dirinya tengah melajukan mobilnya menuju apartemen Sania. Ia sudah mencoba mempertimbangkan berbagai opsi yang akan ia lakukan untuk meluruskan masalah ini dengan ibunya. Salah satunya adalah mengatakan bahwa hubungannya dengan Sania baru saja berakhir dan tidak memungkinkan untuk diteruskan dengan berbagai macam alasan. Atau opsi yang lain dengan mengaku yang sebenarnya bahwa ia dan Sania sebenarnya hanya bersandiwara dan tidak benar-benar adalah sepasang kekasih. Namun lagi-lagi Daniel merasa tidak cukup tega untuk menggunakan opsi-opsi itu. Pilihan-pilihannya itu hanya akan membuat ibunya kecewa atau bahkan memperburuk kesehatan wanita yang sangat disayanginya itu. Daniel tidak pernah mau membayangkan hal buruk itu menimpa ibunya.

Genggaman Daniel menguat pada kemudi mobil yang ia kendarai. Ia semakin kesal ketika beberapa waktu lalu menghubungi Sania dan mendapat penolakan mentah-mentah dari wanita itu.

Tidak mau! Itu jawaban Sania ketika Daniel dengan lugas memintanya untuk kembali bersandiwara dengannya.

Penolakan-penolakan Sania berikutnya menyulut amaran Daniel, hingga ia memutuskan untuk menyusul wanita itu di apartemen. Ia tidak akan berhasil membuat Sania menuruti kemauannya apabila hanya beradu pendapat melalui sambungan telepon.

Daniel segera turun dari mobilnya dan bergegas menuju ruang apartemen Sania di lantai dua. Selama perjalanannya itu, ia masih sempat menyalahkan dirinya sendiri yang dengan mudahnya berjanji pada ibunya untuk mengenalkan Sania hari ini. Seharusnya ia memiikirkan sifat keras kepala Sania. Lagi-lagi Daniel bertindak gegabah tanpa memikirkan akibat-akibatnya.

“Mau kemana kau?” Pertanyaan Daniel seketika menghentikan gerakan Sania yang hendak mengunci pintu apartemennya dari luar. Penampilan Sania rapih seperti hendak pergi.

Bukannya menjawab, wanita yang ditanya malah menimpali dengan pertanyaan juga, “Ada perlu apa kau kesini?”

“Ada yang perlu kita bicarakan!”

“Mengenai sandiwara itu? Bukankah sudah kukatakan aku tidak mau!” Sania membalas tatapan Daniel dengan keras kepala.

“Sandiwara ini tidak bisa dengan mudah diakhiri. Kita harus menuntaskan masalah yang terjadi akibat sandiwara ini!” Daniel tidak tahan untuk tidak berteriak. Kesabarannya sudah habis untuk meladeni sikap keras kepala wanita di depannya.

“Itu masalahmu, tugasku sudah selesai. Aku tidak mau berurusan denganmu lagi!” Sania tidak mau berhubungan dengan Daniel lagi, karena mau tidak mau ia juga akan berurusan dengan Eric.

“Kita yang membuat masalah ini, kita juga yang harus menyelesaikannya!”

“Kau yang mengusulkan sandiwara konyol itu. Jangan berkata seolah aku juga terlibat dengan masalahmu yang aku sendiri tidak tau apa!”

“Kau juga terlibat!” Nada suara Daniel nyaring dan terdengar membentak.

“Bisakah kau mengecilkan sedikit suaramu? Kau akan mengganggu penghuni yang lain!” Sania memperingatkan dengan tidak sabar.

“Kalau begitu mari kita bicarakan masalah ini di dalam!” Tanpa menunggu persetujuan dari Sania, Daniel berjalan mendekati pintu apartemen Sania dan membuka pintu itu sambil mendorong paksa Sania hingga ikut masuk ke dalam.

“Hei, apa yang kau lakukan?” Sania berusaha meronta dan melawan dorongan Daniel di punggungnya. “Aku tidak ada waktu berdebat dengamu. Aku harus pergi sekarang juga!” Sania merasa percuma berkata seperti itu karena kini Daniel telah menutup rapat pintu itu dan menguncinya. Kunci satu-satunya itu kini disimpan Daniel di saku celana jeans-nya. Pria itu lalu tanpa permisi melenggang masuk ke ruang tamu dan menghempaskan dirinya ke sofa.

“Duduklah! Kita perlu membicarakan masalah ini baik-baik.” Ucap Daniel setelah menghembuskan nafas beratnya. Sejauh ini ia berhasil menahan amarahnya yang selalu disulut oleh Sania. Ia tidak pernah semarah ini sebelumnya. Ia sangat marah karena hanya Sania yang berani menolak keputusannya. Bukan hanya satu kali, tetapi berkali-kali.

“Aku harus pergi. Ada pekerjaan yang lebih penting yang harus kulakukan selain meladenimu bicara!” Sania masih saja keras kepala. Ia masih berdiri kokoh di dekat pintu, berharap Daniel berbaik hati padanya dan segera membukakan pintu untuknya.

“Kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini sebelum menyutujui keputusanku!” Nada suara Daniel terdengar sangat mengancam. Matanya menajam menghujam mata Sania tanpa ampun. Ia hampir berada pada titik kesabarannya yang paling akhir.

Nyali Sania mendadak menciut. Dengan langkah berat ia berjalan menuju ruang tamu dan memilih duduk di sofa yang berseberangan dengan Daniel. Ia merasa tidak akan bisa menang melawan Daniel dalam kondisi pria itu yang kini berapi-api.

Mata Daniel tak pernah sedetik pun beralih dari Sania. “Sandiwara kita harus dilanjutkan!” Ucapnya tegas.

“Mengapa aku harus melakukannya?” Tanya Sania angkuh.

“Karena ini menyangkut nyawa ibuku!” Sorot mata Daniel kali ini penuh dengan permohonan.

“Nyawa?” Sania tidak mengerti.

“Ibuku mengetahui kita adalah benar sepasang kekasih.”

“Lalu kenapa? Kau hanya perlu mengatakan hubungan kita telah berakhir, semuanya akan selesai!” Ucap Sania enteng.

“Tidak semudah itu. Ibuku memiliki riwayat penyakit jantung turun temurun dari keluarganya. Sekecil apapun kabar yang membuatnya syok akan mengganggu kesehatannya, bahkan ibuku bisa saja kehilangan nyawanya!”

Sania bergidik ngeri setiap kali Daniel menyebut kata ‘nyawa’. “Bukankah hal yang biasa bila seorang anak mengakhiri hubungan dengan kekasihnya apabila dirasanya tidak cocok? Kurasa ibumu akan mengerti.”

“Ibuku lain!” Daniel menghela nafas beratnya untuk kesekian kalinya. “Ibuku terlihat sangat bahagia ketika mendengar kabar bahwa aku sudah memiliki kekasih. Mungkin karena selama ini aku tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. Aku sangat khawatir bila mengecewakannya dengan mengatakan hubungan kita telah berakhir.”

Sania mendadak iba dengan raut muka Daniel yang nampak sangat tertekan, bimbang akan apa yang harus pria itu perbuat. Biar bagaimana pun Daniel masih beruntung, masih memiliki orang tua. Mungkin apabila orang tua Sania masih ada, ia juga akan melakukan hal yang sama seperti Daniel, mengupayakan apa pun demi kebahagiaan orang tuanya.

“Kau mau membantuku menjalankan sandiwara ini, bukan?” Nada suara Daniel melemah. Dalam hatinya ia memaki dirinya sendiri karena nada suaranya terdengar seperti memohon. “Tenang saja, aku akan membayarmu!”

“Kau tidak akan sanggup membayarku. Aku bahkan tidak tau sampai kapan sandiwara ini akan berakhir bila aku menyetujuinya!” Masih sempat-sempatnya Sania bersikap angkuh setelah beberapa saat lalu mulai berempati akan kondisi Daniel.

“Aku akan membayarmu, berapa pun yang kau minta!”

Daniel menjawab dengan sangat cepat, bahkan terlalu cepat hingga membuat Sania menyadari betapa besar rasa sayang Daniel pada ibunya itu. Sebenarnya pertimbangan Sania bukan karena uang. Ia hanya berharap pendirian Daniel goyah ketika ia meminta dibayar tinggi. Tapi nyatanya, pria itu langsung menyanggupi tanpa pikir panjang.

“Baiklah!” Ucap Sania akhirnya, disusul hembusan nafas lega dari Daniel. “Hanya di depan ibumu!”

Daniel menggeleng. “Kau tidak boleh setengah-setengah dalam menjalankan sandiwara ini! Di depan ibuku, di depan teman-temanku, juga di depan semua orang yang ibuku kenal.”

“Baiklah!” Sania mengangguk, menyetujui perkataan Daniel. “Apa kau sudah selesai? Aku harus pergi sekarang!”

“Tidak boleh, sandiwara kita akan kita mulai hari ini juga!”

“Apa?”

“Kau akan kuperkanalkan kepada ibuku hari ini juga!” Daniel lagi-lagi menunjukkan arogansinya.

“Hei, sepertinya kau juga harus menghormati urusanku!” Sania mengeluh, tak terima.

“Kau harus ada ketika aku membutuhkanmu untuk menjalankan sandiwara ini. Kapan pun itu. Selain dari itu, aku tidak akan urus campur dengan urusanmu, apa pun itu!”

“Baiklah!” Sania mengulang kata itu untuk kesekian kalinya. Ia hanya tidak mau menghabiskan energinya untuk berdebat dengan orang yang tidak pernah mau mengalah darinya. “Tapi kuharap kau mengerti sekarang aku sedang ada urusan penting!”

Lagi-lagi Daniel menggeleng, tidak menyetujui permintaan Sania. “Sekarang aku membutuhkanmu untuk menjalankan sandiwara ini. Kau harus ikut denganku ke rumahku!” Suara Daniel penuh dengan tekanan dan peringatan.

Sania hanya dapat berdecak kesal menghadapi sikap Daniel yang terkesan mau menang sendiri. Ia sangat menyesal karena bertemu dengan orang seperti Daniel. Orang itu pula yang membuatnya kembali bertemu dengan Eric setelah sekian lama berusaha ia lupakan.

“Sebelum kita pergi menemui ibuku, ceritakan padaku tentang dirimu yang harus kuketahui.”

“Untuk apa?” Sania menolak untuk menceritakan hal pribadi kepada orang asing. Baginya Daniel adalah orang asing yang baru dikenalnya belum lama.

“Untuk jawabanku pada ibuku. Kau ingin sandiwara kita terbongkar hanya karena aku salah menjawab pertanyaannya tentang dirimu? Kau bisa mencelakakannya!” Daniel merasa tersulut kembali emosinya yang tadi berhasil ia redakan. “Apa kau mau aku menyuruh orang-orangku untuk mencari tau semua tentang dirimu?”

Sania terkejut. Benar juga yang dikatakan Daniel tadi. Pria itu bisa saja dengan mudah mendapatkan semua informasi tentang dirinya hanya dengan membayar orang suruhannya. Itu akan lebih mudah tanpa perlu memaksanya untuk bicara.

“Baiklah, aku akan menceritakan tentang diriku yang kurasa memang perlu kau ketahui.” Sania memilih untuk menceritakan sendiri tentang dirinya. Setidaknya ia dapat memilah-milah sendiri mana yang perlu ia lontarkan dan mana yang harus ia sembunyikan dalam-dalam, termasuk masa lalunya dengan Eric.

Sania mulai menceritakan tentang dirinya, mulai dari usia, tanggal lahir, hobi, kebiasaan, kesukaan dan yang lainnya. Ia juga menceritakan kedua orang tuanya telah meninggal karena kecelakaan pesawat tiga tahun lalu.

Daniel menyimak dengan seksama setiap informasi yang diberikan Sania padanya.

—<><>—

Pertemuan Sania dengan ibu Daniel belangsung hangat dan akrab. Ibu Daniel begitu antusias sejak kedatangan Sania. Ia tak henti-hentinya tersenyum sumeringah, sungguh terlihat sangat bahagia.

“Aku sudah pernah melihatmu sebelumnya,” Ibu Daniel berkata masih dengan senyuman ramahnya pada Sania.

Sania dan Daniel yang duduk di depan ibunya kompak saling melempar tatapan terkejut, lalu kembali menoleh ke arah ibu Daniel yang mulai melanjutkan perkataannya.

“Aku sering melihat Sania di rumah makan milik bibi Marin. Kau sangat rajin, apa kau bekerja disana?”

Sania balas tersenyum, lalu menggeleng pelan. “Tidak, Tante—”

“Jangan panggil aku dengan sebutan ‘tante’, aku merasa sangat jauh denganmu. Panggil aku ‘ibu’ mulai sekarang.”

Sania tercengang, begitu pula Daniel yang duduk di sebelahnya. Mereka sama-sama terkejut mendengar permintaan itu.

Senyuman ibu Daniel yang tidak pernah pudar seolah memaksa Sania untuk menurut. “Baiklah, I-bu!” Ucapnya masih sedikit kaku.

Daniel dapat menyaksikan senyum di wajah ibunya semakin cerah. Tidak pernah ia melihat ibunya sebahagia seperti ini. Ia tidak menyangka hal yang paling diharapkan ibunya adalah melihat dirinya memiliki seorang pasangan. Tidak ada yang bisa dilakukan Daniel saat ini selain membiarkan ibunya merasakan kebahagiaan. Ia berharap suatu saat ibunya dapat mengerti dan memaafkannya ketika sandiwara ini harus berakhir.

“Aku hanya sesekali membantu bibi Marin di rumah makan miliknya. Karena sejak kedua orang tuaku meninggal, bibi Marin sangat baik padaku. Ia selalu membantu kehidupanku dan terus memberikanku semangat.” Sania melanjutkan kata-katanya.

Ibu Daniel mengangguk paham. “Aku turut prihatin atas kepergian orang tuamu. Namun kau terlihat sangat tegar.”

“Aku sudah terbiasa,” Sania tersenyum ramah. Tidak ada alasan untuk tidak tersenyum, karena ibu Daniel sedari tadi bersikap sangat ramah padanya.

“Sekarang kau tinggal dengan siapa?”

“Aku tinggal sendiri di apartemen sederhana peninggalan ayah,”

“Sendirian?” Ibu Daniel nampak terkejut. “Kau boleh tinggal disini mulai hari ini!”

Sania terkejut bukan main di tempatnya. Tubuhnya mendadak kaku mendengar ucapan ibu Daniel, sementara Daniel yang duduk di sebelahnya hampir saja menumpahkan teh hangat yang baru saja disesapnya kalau saja pria itu tidak sigap menahan cangkirnya yang bergetar karena terkejut.

“Oh, maafkan Ibu.” Ibu Daniel kemudian menyesali perkataannya. “Mungkin kalian harus segera menikah agar Sania bisa tinggal disini!”

Air teh di cangkir genggaman Daniel akhirnya tumpah sebagian karena goncangan tangannya semakin kuat, hingga membuat kemeja putihnya sedikit basah dengan warna kecoklatan.

Sania melirik gerakan Daniel yang terlihat panik, sama paniknya dengan dirinya sendiri. Berkali-kali Sania menahan nafasnya, berusaha mengontrol kepanikannya sendiri.

Sania mengambilkan beberapa lembar tissue di atas meja untuk Daniel.

“Daniel, apa kau baik-baik saja?” Pandangan Ibu Daniel kini beralih memperhatikan putranya yang baru saja menaruh cangkir teh dan menyambut tissue pemberian dari Sania.

“Y-ya, aku baik-baik saja, Bu!” Bahkan nada suara Daniel terdengar masih sangat terkejut.

“Bagaimana dengan yang Ibu usulkan tadi?” Bukannya meredakan suasana, ibu Daniel malah menambah suasana semakin mencekam.

Baik Daniel maupun Sania tidak ada yang berani bersuara. Usul ibu Daniel itu tidak mungkin mereka laksanakan, mengingat status hubungan mereka hanya sandiwara.

“Ibu, sepertinya kau berpikir terlalu jauh. Kami masih belum memikirkan masalah pernikahan!” Daniel akhirnya mencairkan suasanya. Sania mulai dapat bernafas lega sekarang.

“Kalau begitu kalian sudah harus memikirkannya!” Ibu Daniel masih tetap bersikeras.

“Akan kami pertimbangkan!” Daniel berusaha mengakhiri topik tentang pernikahan, sementara Sania hanya tertunduk tak tau harus bersikap seperti apa menanggapinya.

—<><>—

“Apa kau tidak merasa sudah keterlaluan? Ibumu wanita yang sangat baik.” Sania langsung membuka suara ketika memasuki mobil Daniel.

Pria yang diajak bicara tidak menanggapinya. Daniel menutup pintu mobilnya dengan sedikit bantingan, lalu segera melajukan mobilnya keluar dari parkiran rumahnya.

“Seharusnya kau tidak perlu membohonginya seperti ini. Aku sungguh tidak tega!” Sania masih saja terus bersuara, berharap ada tanggapan dari Daniel.

“Apa kau bisa diam?” Daniel menanggapi dengan bentakan keras. “Kau pikir aku tega membohongi ibuku? Ini semua sudah terlanjur terjadi. Aku akan lebih merasa bersalah bila mengatakan yang sebenarnya padanya. Kau bisa bayangkan sendiri betapa kecewanya ia jika tau kenyataan yang sebenarnya!” Suara Daniel penuh dengan tekanan. Ia nampak lebih frustasi dari siapa pun dalam situasi ini.

“Seharusnya kau tidak perlu melibatkanku dalam kasus ini!” Sania mengeluh untuk kesekian kalinya. “Aku tidak akan tega melukai perasaannya nanti!” Ia mulai menunduk, lalu kembali mengeluh, “Seharusnya aku tidak usah bertemu denganmu! Seharusnya aku tidak menyetujui sandiwara konyol yang kau usulkan!”

Daniel melirik Sania dengan penuh emosi. “Apa kau tidak bisa diam? Kalau kau terus mengeluh, aku akan menurunkanmu di jalan!” Daniel mulai mengancam karena ocehan Sania membuatnya semakin frustasi.

“Kau berani menurunkanku di jalan?” Tanya Sania marah.

“Tentu saja!” Daniel menjawab penuh keyakinan.

“Kalau begitu, turunkan aku disini!” Tantang Sania.

Tanpa pikir panjang, Daniel segera menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Sania terbelalak tak percaya, pria itu benar-benar melakukannya.

“Mengapa kau tidak juga turun?” Tanya Daniel sinis ketika melihat Sania tidak juga beranjak dari duduknya. “Apa perlu ku bukakan pintu untukmu?” Sindirnya kemudian.

Sania menoleh penuh amarah pada Daniel sambil membuka pintu mobil di sebelahnya. Dengan cepat ia melompat turun dan menutup kembali pintu mobil itu dengan bantingan keras.

Tanpa kata-kata, Daniel langsung melesat dengan mobilnya, menjauh dari Sania yang hanya bisa mematung di tempatnya berdiri. Wanita itu masih sulit mempercayai ada orang sekejam Daniel. Jarak halte terdekat masih berkilo-kilo meter jauhnya dan Sania terpaksa harus menempuhnya dengan berjalan kaki.

“Pria itu benar-benar tak berperasaan! Bagaimana bisa ia tega menurunkanku di pinggir jalan seperti ini?” Sania mengeluh kesal atas tindakan Daniel padanya. “Paling tidak seharusnya ia berbaik hati menurunkanku di halte terdekat! Pantas saja pria sepertinya tidak memiliki kekasih. Sifatnya pada wanita sangat buruk!”

Entah sudah berapa lama Sania berjalan kaki, namun ia belum juga bisa melihat halte terdekat yang ditujunya. Ia mulai kelelahan, apa lagi teriknya sinar matahari membuat peluhnya bercucuran dan ia merasa sangat kehausan.

Langkah Sania seketika berhenti ketika sebuah mobil hitam menepi tepat di sebelahnya berdiri. Sania memperhatikan kaca mobil itu, seperti berusaha mencari tau siapa orang yang berada dibaliknya.

Perlahan kaca mobil itu turun dan memperlihatkan sang pengemudi yang hanya seorang diri di dalam mobil mewahnya.

“Ternyata aku tidak salah menduga.” Si pengemudi itu bersuara, sementara Sania masih mematung di tempatnya berdiri. “Apa kau perlu tumpangan?” Tawarnya kemudian.

“Tidak perlu!” Sania menjawab cepat, lalu kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda. Ia sudah bertekad dalam hatinya untuk menjauh dari pria yang bernama Eric, pria yang telah membuatnya patah hati. Mengapa ia jadi sering bertemu dengan pria itu? Sania merasa sangat tidak beruntung.

“Tunggu dulu!” Eric keluar dari mobilnya dan berusaha menyusul Sania dengan langkah-langkah yang tak kalah cepat. “Sania, mengapa kau selalu menghindariku?” Tangan Eric meraih cepat pergelangan tangan Sania untuk membuat wanita itu menghentikan langkahnya.

Sania menepisnya dengan kasar. Ia sangat benci dengan sikap Eric kini yang seolah tidak berdosa. “Bisakah kau tidak usah menggangguku lagi?” Bentak Sania mulai tak sabar.

“Sania, sepertinya kita harus bicara. Aku akan menjelaskan semuanya padamu!” Ekspresi wajah Eric memelas. Ia berharap Sania mau memenuhi permintaannya itu.

“Eric kumohon, aku tidak mau berurusan lagi denganmu. Biarkan aku hidup tenang!” Sania merasa hampir menangis. Hatinya selalu terluka ketika melihat wajah Eric. Bayangan masa lalunya yang kelam selalu menghantuinya ketika menatap mata pria itu.

“Sania, sekali saja. Kumohon kau mau sekali saja mendengar penjelasanku. Setelah itu aku berjanji tidak akan mendekatimu bila memang kau menginginkannya!” Eric tetap bersikeras. Ia merasa dirinya sudah gila sejak pertemuannya kembali dengan Sania di malam pesta pertunangannya. Ia merasa masih sangat mencintai wanita itu. Ia bahkan tidak sanggup menerima kenyataan bahwa Sania adalah kekasih sahabatnya sendiri, Daniel.

Sania menghela nafas berat. Mungkin ia memang harus menuruti permintaan Eric. Ia hanya berharap pria itu tidak mengingkari janjinya untuk tidak mengusik kehidupannya setelah ini.

Disisi lain Daniel menepikan mobilnya agak jauh di seberang jalan. Beberapa saat yang lalu ia memutar laju mobilnya untuk kembali menyusul Sania. Entah ada angin apa Daniel merasa bersalah atas tindakannya terhadap wanita itu. Ia merasa memang bukan salah Sania. Tak seharusnya juga ia melibatkan wanita itu dalam masalah yang ditimbulkannya.

Niat Daniel untuk menyusul Sania mendadak diurungkannya ketika melihat Sania tidak seorang diri di tepi jalan. Wanita itu bersama dengan Eric.

Daniel memperhatikan interaksi kedua orang itu cukup lama dari dalam mobilnya. Hatinya memanas tanpa ia sadari. Terlebih ketika pada akhirnya Sania masuk ke dalam mobil Eric dan melaju semakin menjauh.

Daniel merasa tidak seharusnya Sania berdekatan dengan pria lain walaupun hubungan dengannya hanya sebuah sandiwara. Ataukan Daniel yang terlalu egois?

To be continued…

P.S: Jangan lupa komentarnya, untuk kelanjutan cerita ini :D/

Iklan

2 comments on “[Berdebar] – [5] N.Y.A.W.A

  1. Haduhh haduhhh, sandiwara daniel dan sania makin rumit aja. Ibunya daniel malah nyuruh mereka nikah. Wkwk
    Gak bayangin gmn nanti klo ibunya daniel tau bahwa sania dan daniel cuma sandiwara 😦
    Aigoo, itu eric muncul” lagii. Ciyee, si daniel mulai cemburu tuh. Hehe.
    next part nya sangat di tunggu, uda gk sabar soalnya. Hehe.

  2. Wkwk daniel udh mulai ada rasa kyknya..ibunya daniel ramah & welcome bgt ternyata, aku kira bakal galak jahat gmn wkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s